Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Miliarder China Ini Rogoh Kocek Sendiri Untuk Tutupi Utang Perusahaan

Neraca pribadi para taipan properti China telah menjadi kunci bagi investor untuk menentukan apakah para pengembang dapat memenuhi kewajiban utang mereka.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 22 November 2021  |  15:51 WIB
Properti China. - .Bloomberg
Properti China. - .Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Sejumlah miliarder China dari kalangan properti telah merogoh kantongnya sendiri untuk mengatasi ancaman gagal bayar utang perusahaannya. Penjualan aset mewah hingga porsi saham ditaksir mencapai US$3,8 miliar.

Kini, neraca pribadi para taipan properti China telah menjadi kunci bagi investor untuk menentukan apakah para pengembang dapat memenuhi kewajiban utang mereka.

Kerelaan mereka menggambarkan bahwa krisis likuiditas sudah dalam level yang gawat dibandingkan dengan sebelumnya ketika perusahaan real estat dapat memperoleh uang tunai dari penjualan atau aset langkanya.

Namun, dengan harga hunian dan properti yang sedang terpuruk, perbankan enggan memberikan pinjaman karena dinilai sektor yang berisiko, dan imbal hasil obligasi offshore yang tengah naik, telah memaksa para pemilik bisnis turun tangan.

Konsep ini berbeda dengan bisnis di negara lain, di mana konsep liabilitas terbatas umumnya melindungi kekayaan pribadi pemilik dari klaim kreditur. Sementara itu, batasan tersebut tidak begitu jelas di China.

Direktur Asia Global Institute University of Hong Kong Zhiwu Chen mengatakan regulator di China memiliki kekuasaan untuk menekan para taipan untuk mencampurkan aset pribadi mereka dengan perusahaan dan memperlakukan keduanya sebagai hal yang tak terpisahkan.

"Itu juga sebagian karena pemegang saham pengendali, terutama pendiri, sering memperlakukan aset perusahaan seolah-olah itu milik pribadi mereka," katanya.

Namun, langkah para pemilik bisnis itu sudah direspons positif oleh pasar. Obligasi dolar 8,25% China Evergrande Group yang jatuh tempo tahun depan telah pulih menjadi sekitar 30 sen dolar dari rekor terendah 22,7 sen sebulan sebelumnya, setelah Chairman Hui Ka Yan mengumpulkan dana dengan melepaskan aset pribadi dan menjaminkan sahamnya.

Meskipun tidak jelas bagaimana uang itu digunakan, raksasa properti itu telah menghindari default tiga kali dengan membayar bunga obligasi yang telah jatuh tempo.

Surat utang Sunac China Holdings Ltd., Guangzhou R&F Properties Co., Shimao Group Holdings Ltd. dan CIFI Holdings Group Co. semuanya naik setelah berita tentang dukungan pendiri mereka, yang dijelaskan di bawah ini.

Bloomberg merangkum setidaknya ada tujuh miliarder yang telah menggunakan harta pribadinya untuk turun tangan menyelamatkan perusahaan.

1. Hui Ka Yan, Evergrande

Hui diketahui telah menyuntikkan lebih dari US$1 miliar kepada Evergrande, menurut China Business News. Jumlah itu masih seperdelapan dari total kekayaannya yang mencapai US$7,7 miliar, menurut Bloomberg Billionaire Index.

Namun, masih belum jelas apakah kekayaan Hui cukup besar dan likuid untuk mengurangi total kewajiban pengembang, yang membengkak menjadi lebih dari US$300 miliar pada Juni.

2. Sun Hongbin, Sunac

Sun mengubah Sunac yang berbasis di Beijing menjadi perusahaan yang dikenal karena mengakuisisi aset perusahaan saingan bermasalah, seperti proyek pusat kota Oceanwide Holdings Co., di Shanghai dan Beijing pada 2019.

Kekayaan bersihnya diperkirakan mencapai US$4 miliar, menurut Bloomberg Billionaires Index. Sun diketahui telah menyediakan pinjaman tanpa bunga US$450 juta kepada pengembang menggunakan dananya sendiri,

3. Hui Wing Mau, Shimao

Setelah sempat menjadi tabib dan pekerja di bidang tekstil, Hui memulai bisnis properti dengan membangun hotel bintang tiga serta hunian dan resort. Saat ini, Shimao sudah memiliki lini bisnis hotel mewah di beberapa titik di kota besar China.

Salah satu properti langkanya adalah gedung perkantoran di wilayah termahal Hong Kong, The Center. Kekayaannya ditaksir mencapai US$5,6 miliar. Dia juga merupakan anggota Konferensi Konsultatif Politik Rakyat China, sebuah badan penasihat pemerintah pusat.

4. Lin Zhong, Lin Feng, CIFI

Dua bersaudara yang menjabat sebagai chairman dan presiden telah berkomitmen untuk menyuntikkan HK$1,68 miliar (US$215,60 juta) kepada perusahaan dengan membeli saham baru melalui rights issue.

5. Zhang Li, Li Sze Lim, R&F

Keduanya berjanji untuk menyediakan HK$8 miliar (US$1,02 miliar) untuk pembiayaan jangka pendek kepada R&F setelah perusahaannya sepakat untuk dijual kepada saingannya.

R&F mendorong bisnis hotel pada tahun 2017 ketika menghabiskan US$2,9 miliar untuk membeli 77 hotel milik Dalian Wanda Group Co. R&F sekarang adalah pemilik hotel deluxe terbesar di dunia, dengan 91 hotel telah beroperasi dan 45 lainnya dalam pengembangan.

6. Lin Tengjiao, Yango

Lin menyediakan jaminan pribadi ketika perusahaan berusaha untuk menghindari default. Ketiga surat utang itu memiliki outstanding senilai US$747 juta.

7. Guo Ziwen, Ao Yuan

Guo sepakat untuk menghabiskan HK$599 juta (US$76,87 juta) untuk membeli saham baru di Aoyuan menggunakan perusahaan lain.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china utang pengembang properti

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top