Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Bikin Kampenye Dagang, Inggris Bertekad Genjot Ekspor

Inggris tengah melakukan kampanye "Made in the UK, Sold to the World" atau "Dibuat di UK, Dijual ke Dunia". Kampanye ini ditujukan agar membantu para perusahaan untuk meraih kesempatan-kesempatan baru di pasar global.
Dany Saputra
Dany Saputra - Bisnis.com 17 November 2021  |  15:46 WIB
Suasana sepi di Tower Bridge di London, Inggris, Kamis (9/4/2020). Bloomberg - Simon Dawson
Suasana sepi di Tower Bridge di London, Inggris, Kamis (9/4/2020). Bloomberg - Simon Dawson

Bisnis.com, JAKARTA - Inggris telah mengumumkan rencana untuk meningkatkan ekspor tahunannya hingga 1 triliun euro pada akhir dekade nanti.

Dilansir BBC, Rabu (17/11/2021), kampanye "Made in the UK, Sold to the World" atau "Dibuat di UK, Dijual ke Dunia" ini, ditujukan agar membantu para perusahaan untuk meraih kesempatan-kesempatan baru di pasar global.

Tahun lalu, ekspor Inggris mencapai nilai sekitar 600 miliar euro, dalam bentuk barang dan jasa. Akan tetapi, hanya satu dari 10 perusahaan asal United Kingdom (UK) ini yang melakukan perdagangan ke luar negeri.

Menteri Perdagangan Internasional Inggris Anne-Marie Trevelyan mengatakan bahwa mendorong potensi penuh ekspor merupakan hal yang vital bagi perusahaan.

Sebagai bagian dari rencana yang meliputi 12 poin ini, lembaga pemerintahan seperti Pembiayaan Ekspor Inggris (UK Export Finance) akan menawarkan jasa baru untuk membantu eksportir dalam negeri untuk mengamankan bisnisnya.

Tidak hanya itu, pemerintah akan mengadakan program pameran perdagangan anyar untuk membantu perusahaan di Inggris memamerkan produk mereka pada acara internasional.

Koresponden perdagangan global BBC Chris Morris mengatakan bahwa target-target tersebut pernah ditetapkan sebelumnya, akan tetapi tidak berhasil dicapai.

Namun, tugas ini telah memiliki urgensi baru. Hal ini karena kinerja ekspor dari banyak negara kaya lainnya telah pulih lebih cepat dari lockdown akibat Covid-19.

Akan tetapi, Chris menyebut ada satu konteks yang tidak dibahas oleh pemerintah yaitu penarikan diri Inggris dari Uni Eropa setelah 47 tahun dalam aliansi ekonomi dan politik, atau dikenal dengan British Exit (Brexit).

Dia menggarisbawahi bahwa ekspor ke negara-negara Uni Eropa di bawah kesepakatan perdagangan bebas baru Inggris, akan lebih sulit dibandingkan dengan pada saat berada di dalam satu pasar tunggal.

Pada saat yang sama, forecaster independen untuk Kantor Pertanggungjawaban Anggaran atau Office for Budget Responsibility (OBR) memperkirakan ekspor ke Uni Eropa akan lebih rendah 15 persen dalam jangka panjang.

"Usaha-usaha hingga saat ini tengah mengatasi tantangan langsung yang diberikan Brexit kepada mereka sekitar lima tahun ini," jelas penasihat kebijakan Institute of Directors Emma Rowland.

Menurut Emma, terdapat banyak kesempatan baru di dunia, akan tetapi negara anggota Uni Eropa tidak seharusnya diabaikan, karena mereka masih pasar ekspor terbesar Inggris.

"Walaupun ada potensi yang signifikan untuk aktivitas perdagangan di dunia yang lebih luas, pemerintah harus tetap mendapatkan solusi pragmatis terhadap tantangan ekspor ke Uni Eropa," lanjutnya.

"Pada saat itulah ekspor Inggris baru akan dapat merealisasikan potensinya secara penuh," pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

eskpor inggris
Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top