Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kimia Farma Sungwun Bidik Pertumbuhan Penjualan 80 Persen Tahun Depan

Produsen bahan baku obat (BBO) PT Kimia Farma Sungwun Pharmacopia  atau KFSP membidik pertumbuhan penjualan 80 persen pada tahun depan, setelah berhasil mencatatkan kinerja yang yang meroket tahun ini.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 15 November 2021  |  15:13 WIB
Remdesivir Vial, salah satu bahan baku obat. - Istimewa
Remdesivir Vial, salah satu bahan baku obat. - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Produsen bahan baku obat (BBO) PT Kimia Farma Sungwun Pharmacopia  atau KFSP membidik pertumbuhan penjualan 80 persen pada tahun depan, setelah berhasil mencatatkan kinerja yang yang meroket tahun ini.

Presiden Direktur KFSP Pamian Siregar mengatakan, proyeksi tersebut didorong oleh bertambahnya molekul BBO yang diserap industri farmasi, dan peningkatan penggunaan bahan baku yang kini sudah digunakan.

“Proyeksi pertumbuhan penjualan tahun depan sekitar 80 persen dari prognosa penjualan tahun ini,” kata Pamian kepada Bisnis, Senin (15/11/2021).

Adapun, penjualan pada tahun ini tumbuh 450 persen dibandingkan dengan 2020. Pertumbuhan yang signifikan karena 2021 merupakan tahun pertama komersialisasi sejumlah produk BBO yang sejak 2016 dikembangkan perusahaan.

Hingga kini ada 10 molekul BBO yang telah dikembangkan, dan enam di antaranya telah terserap oleh industri farmasi dan mengantongi sertifikat good manufacturing practice (GMP) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Sementara itu, empat jenis BBO lainnya masih dalam proses peralihan sumber bahan baku di sejumlah pabrikan farmasi.

Pamian melanjutkan, faktor pendorong pertumbuhan lain pada tahun depan adalah rencana pemerintah mengeluarkan kebijakan dan instrumen yang berpihak pada industri BBO dalam negeri.

Dia juga mengatakan, selama masa pandemi telah timbul kesadaran dari berbagai pemangku kepentingan mengenai urgensi kemandirian bahan baku obat di dalam negeri.

Pasalnya, lebih dari 90 persen BBO yang digunakan di industri farmasi dalam negeri masih didatangkan dengan impor.

Ketika rantai pasok terputus akibat pembatasan di berbagai negara sumber impor BBO, industri farmasi terkena imbasnya dengan waktu tunggu pesanan yang lebih lama dari sebelum pandemi.

“Kebijakan pemerintah yang dapat meningkatkan penggunaan BBO dalam negeri oleh industri farmasi, diharapkan akan dapat meningkatkan penggunaan BBO yang sudah diproduksi KFSP, sehingga secara signifikan dapat menurunkan impor BBO pada 2022,” jelas Pamian.

Sementara itu, industri kimia, farmasi, dan obat tradisional tumbuh signifikan pada kuartal III/2021, dan menjadi salah satu penopang kinerja manufaktur.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan industri sebesar 9,71 persen secara year-on-year (yoy).

Pertumbuhan tersebut ditopang oleh melonjaknya permintaan terhadap barang-barang terkait Covid-19 selama pandemi.

Sebelumnya, pertumbuhan industri tercatat 9,15 persen pada kuartal II/2021 dan 11,46 persen pada triwulan pertama tahun ini.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kimia farma bahan baku obat
Editor : Lili Sunardi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top