Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Menperin Bakal Pamer Industri Hijau di Presidensi G20

Saat ini, negara-negara di dunia adu strategi untuk bergerak menuju ekonomi hijau yang lebih berkelanjutan. Di Indonesia, selain penerapan pajak karbon, pemerintah juga telah mencanangkan pembangunan kawasan industri hijau (KIH) di Kalimantan Utara.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 10 November 2021  |  20:45 WIB
Menperin Bakal Pamer Industri Hijau di Presidensi G20
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita memberikan sambutan saat Bisnis Indonesia Award (BIA) 2021 di Jakarta, Rabu (15/9/2021). - Bisnis/Eusebio Chrysnamurti
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan Indonesia akan memamerkan KIH tersebut pada trade investment and working group (TIIWG) G20 tahun depan. Indonesia diketahui akan mulai memegang kendali sebagai Ketua G20 pada 1 Desember 2021.

"Dalam G20 kami akan men-showcase apa yg disebut kawasan industri hijau, yang totally akan green," kata Agus di Jakarta, Rabu (10/11/2021).  

Saat ini, negara-negara di dunia adu strategi untuk bergerak menuju ekonomi hijau yang lebih berkelanjutan. Di Indonesia, selain penerapan pajak karbon, pemerintah juga telah mencanangkan pembangunan kawasan industri hijau (KIH) di Kalimantan Utara.

Rencana pembangunan kawasan industri hijau itu juga disebut-sebut telah mendapat dukungan dari sejumlah investor potensial.

Agus sebelumnya juga telah mengantongi komitmen investasi senilai Rp28,68 triliun dari produsen gula terbesar Dubai Al Khaleej Sugar Co. atau AKS. Selain produksi gula, investasi tersebut juga akan mengalir ke pengembangan fabrikasi etanol yang dapat menjadi sumber bahan bakar alternatif.  

AKS juga tertarik dengan pengembangan produk turunan lainnya dari tebu, yakni biomassa yang dapat dijadikan energi listrik dan etanol untuk pencampuran bahan bakar.

Sementara itu, dia juga menekankan pentingnya skema perdagangan karbon sebagai salah satu elemen industri hijau. Agus mengatakan Indonesia telah bekerja sama dengan beberapa negara dalam menerapkan perdagangan karbon meski sejauh ini belum ada payung hukumnya.

Sebut saja kerja sama bilateral dengan Jepang melalui skema joint crediting mechanism (JCM). Selain itu, pemerintah juga menjalin kerja sama dengan Norwegia yang akan membayar Indonesia atas upaya dalam menurunkan emisi gas rumah kaca.

Pembayaran tersebut tertuang dalam kerja sama pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan atau REDD+.

"Jadi ada beberapa skema yang bisa kita gunakan. Carbon trading tentunya dalam konteks agar kita bisa mengurangi karbon dan mendorong industri kita menggunakan sumber energi yang lebih ramah lingkungan," jelasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

manufaktur industri hijau kementerian perindustrian
Editor : Muhammad Khadafi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top