Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Top 5 News Bisnisindonesia.id: J&T Express Akuisisi Best Inc China, Pemimpin G20 Sepakati Pajak Perusahaan Besar

CEO J&T Steven Fan seperti dikutip www.scmp.com, Sabtu (30/10/2021) menambahkan kesepakatan itu juga akan membantu bisnis logistik lintas batas J&T.
Saeno
Saeno - Bisnis.com 31 Oktober 2021  |  13:13 WIB
Ilustrasi - Karyawan pengiriman barang J&T memindahkan barang kiriman di Makassar, Sulawesi Selatan. - Bisnis/Paulus  Tandi Bone
Ilustrasi - Karyawan pengiriman barang J&T memindahkan barang kiriman di Makassar, Sulawesi Selatan. - Bisnis/Paulus Tandi Bone

Bisnis.com, JAKARTA – Di tengah perang harga yang sengit di antara para pemain utama industri logistik, perusahaan dari Indonesia J&T Express mengakuisisi bisnis kurir saingannya di China, Best Inc. Akuisisi senilai 6,8 miliar yuan atau US$1,06 miliartersebut, Jumat (29/10/2021).

Kabar tentang ekspansi J&T Express di China menjadi salah satu berita pilihan editor Bisnisindonesia.id. Beragam kabar lainnya yang dikemas secara mendalam dan analitik juga tersaji di Bisnisindonesia.id.

Berikut intisari berita pilihan Bisnisindonesia.id hari ini, Minggu (31/10/2021): 

1.     J&T Express Akuisisi Best Inc China Senilai US$1,06 Miliar

J&T Express mengakuisisi bisnis kurir saingannya di China, Best Inc, senilai 6,8 miliar yuan (US$1,06 miliar). Akuisisi Best Express dimaksudkan untuk memajukan strategi J&T Express dalam meningkatkan manajemen rantai pasokan end-to-end  di pasar China.  

J&T Express memanfaatkan kemampuan infrastruktur Best yang kuat dan jaringan kemitraan yang luas.

CEO J&T Steven Fan seperti dikutip www.scmp.com, Sabtu (30/10/2021) menambahkan kesepakatan itu juga akan membantu bisnis logistik lintas batas J&T.

2.     PM Inggris: Migrasi Massal Bisa jadi Peristiwa Geopolitik Dunia

Dunia harus mengantispasi terjadinya migrasi massal dan persaingan global untuk mendapatkan makanan dan air. Hal itu bisa terjadi jika para pemimpin dunia saat ini tidak bekomitmen menangani ancaman perubahan iklim.

Menurut Perdana Menteri Inggris Boris Johnson kegagalan para pemimpin dunia untuk berkomitmen menangani darurat iklim pada KTT Cop26 di Glasgow dapat memicu terjadinya peristiwa geopolitik yang sangat pelik di dunia.

Suasana KTT G20 di Roma, Italia./BBC

3.     AS Minta Rusia Tidak Dibiarkan Main Politik di Balik Aliran Gas

Amerika menyoroti aliran gas alam dari Rusia ke Eropa. Presiden Joe Biden menegaskan Rusia harus dicegah untuk melakukan manipulasi aliran gas alam dengan tujuan politik.

Hal itu disampaikan Presiden Amerika Serikat Joe Biden saat bertemu dengan Kanselir Jerman Angela Merkel. Keduanya membahas upaya  mencegah Rusia memanipulasi aliran gas alam dengan tujuan politik, kata Gedung Putih, Sabtu (30/10/2021).

"Biden menekankan pentingnya memastikan bahwa Rusia tidak dapat memanipulasi aliran gas alam untuk tujuan politik yang berbahaya," kata pihak Gedung Putih seperti dikutip Antara dari Reuters, Minggu (31/10/2021).

4.     AS dan China Bisa Lakukan Apa untuk Kurangi Emisi Karbon Dunia?

AS dan China adalah dua raksasa dunia yang sangat memengaruhi perubahan iklim global dari dulu hingga saat ini.

Kedua negara itu adalah penghasil gas rumah kaca terbesar di dunia. Setiap upaya untuk mengatasi krisis iklim perlu melibatkan pengurangan emisi gas yang tajam dari AS dan China. Kedua negara pembangkit tenaga listrik itu memiliki catatan emisi yang tak kepalang.

 Emisi China (14,1 miliar metrik ton) lebih dari dua kali lipat emisi AS (5,7 miliar metrik ton), tetapi secara historis, AS mengeluarkan emisi lebih banyak daripada negara lain mana pun di dunia.

5.     Para Pemimpin G20 Sepakati Pajak Perusahaan Besar Minimal 15%

Para pemimpin dari 20 ekonomi utama dunia (G20) menyetujui perjanjian global untuk mengenakan pajak setidaknya sebesar 15% untuk keuntungan bisnis yang besar. Kesepakatan ini seiring kekhawatiran bahwa perusahaan multinasional mengarahkan kembali keuntungan mereka melalui yurisdiksi pajak yang rendah.

Pakta tersebut disetujui semua pemimpin yang menghadiri KTT G20 di Roma, Italia, pada Minggu (31/10/2021) dini hari WIB.

Namun, kelompok G20—yang terdiri atas 19 negara dan Uni Eropa—tak dihadiri Presiden China Xi Jinping dan Pesiden Vladimir Putin yang memilih tampil melalui tautan video.

Selamat membaca!


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Top 5 News Bisnisindonesia.id
Editor : Saeno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper

BisnisRegional

To top