Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Prospek Bisnis IBC Didukung Kebijakan Global dan Nasional

Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah membuat PP No.55 Tahun 2019, tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Berbasis Baterai Untuk Transportasi Jalan. Di dunia, juga banyak negara telah menerbitkan aturan untuk mempercepat transisi kendaran konvensional menjadi kendaraan listrik.
M. Richard
M. Richard - Bisnis.com 17 September 2021  |  12:40 WIB
Presiden Joko Widodo menyaksikan ground breaking pabrik baterai mobil listrik hasil patungan Hyundai dan LG.  - BPMI Setpres
Presiden Joko Widodo menyaksikan ground breaking pabrik baterai mobil listrik hasil patungan Hyundai dan LG. - BPMI Setpres

Bisnis.com, JAKARTA — Ekosistem industri kendaraan listrik nasional diperkirakan akan mampu bersaing dengan negara kompetitor seperti Amerika, Eropa, dan China.

Peneliti Alpha Research Database Indonesia Ferdy Hasiman menyampaikan sektor tambang tanah air telah memiliki Indonesia Battery Corporation (IBC), yakni gabungan empat perusahaan BUMN, PT Pertamina (Persero), PLN (Persero), Mind Id dan PT Aneka Tambang Tbk. (Persero). 

Sejauh ini IBC telah ikut berkontribusi dalam pembangunan baterai mobil listrik di Karawang, Jawa Barat yang akan dibangun perusahaan Korea Selatan, Hyundai, dan LG.

Ferdy menyampaikan prospek IBC ke depan didukung oleh kebijakan global dan nasional. Di level global, Amerika Serikat di bawah Presiden terpilih, Joe Biden akan menyediakan dana triliunan dolar untuk infrastruktur mobil listrik. 

Cina menargetkan 350.000 unit penjualan mobil listrik tahun 2025 dan Eropa menargetkan 300.000 unit mobil listrik tahun 2030. 

Sementara itu di tingkat nasional, Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah membuat PP No.55 Tahun 2019, tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Berbasis Baterai Untuk Transportasi Jalan. 

"Penutupan ekspor nikel dan kewajiban membangun smelter juga adalah langkah strategis pemerintah mengamankan pasokan untuk pengembangan mobil listrik," sebutnya dalam keterangan tertulisnya, Jumat (17/9/2021)

Dia berpendapat hal ini penting karena ke depan, produsen-produsen otomotif dipaksa beradaptasi dengan kebijakan baru ini. Produsen otomotif besar, seperti Mitsubishi, Honda dan Toyota mulai menginvestasikan sekitar Rp100 triliun untuk pengembangan mobil listrik.

Prospek masa depan IBC juga diperkuat oleh tren penjualan mobil listrik produsen-produsen mobil listrik di berbagai negara. "Banyak analis dunia memperkirakan pasar mobil listrik dunia akan tumbuh US$53 miliar tahun 2025. Ini menjadi berkah bagi Antam dan Indonesia," katanya.

Oleh karena itu, kebijakan untuk mendorong ekosistem kendaraan listrik dari hulu ke hilir penting, mengingat Indonesia adalah negara penghasil nikel terbesar atau berkontribusi 27 persen secara global.

Lebih lanjut dia menuturkan Australia hanya menyumbang 15 persen, Brasil hanya 8 persen, Rusia 5 persen, dan lainnya 20 persen. Itu artinya, Indonesia sudah sewajarnya memiliki posisi tawar tinggi dalam pembangunan mobil listrik.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Nikel Kendaraan Listrik Baterai Mobil Listrik
Editor : Muhammad Khadafi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top