Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Industri Sapi RI-Australia Tertekan, Impor Sapi Bakalan Turun 11 Persen

Dalam laporan tengah tahun Joint State of the Industry (JSOI) 2021 yang dirilis kemitraan, ekspor sapi bakalan Australia ke Indonesia hanya mencapai 229.500 ekor sepanjang semester I/2021.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 08 September 2021  |  17:49 WIB
Ilustrasi sapi bakalan
Ilustrasi sapi bakalan

Bisnis.com, JAKARTA – Kemitraan Indonesia dan Australia dalam industri daging merah, terutama sapi, masih menghadapi tekanan pada tahun kedua pandemi.

Usaha penggemukan sapi dan rumah potong hewan (RPH) kedua negara tertekan akibat terbatasnya pasokan di tengah harga yang masih tinggi. 

“PPKM yang diberlakukan di seluruh Indonesia sebagai upaya mengendalikan pandemi Covid-19 varian Delta secara signifikan melemahkan daya beli konsumen dan permintaan daging sapi,” kata Co-Chair The Indonesia-Australia Partnership on Food Security in the Red Meat and Cattle Sector (Partnership) Indonesia Riyatno dalam siaran pers, Rabu (8/9/2021).

Dalam laporan tengah tahun Joint State of the Industry (JSOI) 2021 yang dirilis kemitraan, ekspor sapi bakalan Australia ke Indonesia hanya mencapai 229.500 ekor sepanjang semester I/2021. Jumlah ini turun 11 persen dibandingkan dengan periode yang sama setahun sebelumnya.

Ekspor total sapi bakalan Australia diperkirakan melanjutkan penurunan pada tahun ini, yakni di kisaran 9 persen secara tahunan dan 36 persen dibandingkan dengan 2019.

Turunnya impor ini tak lepas dari pemulihan populasi sapi Australia yang masih berlanjut dan diikuti dengan harga yang relatif masih tinggi. Laporan JSOI menunjukkan harga sapi hidup yang dikirim dari Darwin mencapai level tertinggi AU$4,30 per kilogram.

Harga yang tinggi membuat pelaku usaha penggemukan harus berjuang mempertahankan profitabilitas. Sebagian besar usaha feedlot beroperasi pada kapasitas sekitar 30 persen dan mengalami tekanan keuangan.

Sementara lainnya mempertahankan kapasitas sebesar 60 persen atau lebih tinggi dan melaporkan tingkat profitabilitas yang sedang dengan cara melakukan efisiensi operasional serta dengan melakukan jual beli ternak secara cermat.

Co-Chair Partnership Australia Chris Tinning memperkirakan harga sapi akan mulai membaik pada paruh kedua 2022.

“Curah hujan yang baik di Australia tahun ini membantu produsen Australia untuk meningkatkan kembali populasi sapi dan mempertahankan  stok sapi mereka. Harga ekspor sapi hidup yang tinggi saat ini seharusnya bisa turun pada paruh kedua tahun 2022, dan bisa meredakan tekanan keuangan yang dialami usaha feedlot dan RPH di Australia dan Indonesia,” kata Tinning.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

australia sapi bakalan
Editor : Amanda Kusumawardhani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top