Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Pengunjung Minim, Pusat Belanja Nonpangan Terimpit E-Commerce

Selama pandemi, penjualan ritel produk gaya hidup cenderung menurun karena tidak menjadi prioritas konsumen. Hal inilah yang menyebabkan level pemulihannya cenderung lebih lama dibandingkan produk pangan.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 31 Agustus 2021  |  18:30 WIB
Pengunjung Minim, Pusat Belanja Nonpangan Terimpit E-Commerce
Pengunjung berada di pusat perbelanjaan MargoCity, Depok, Jawa Barat, Jumat (20/8/2021). - Antara Foto/Asprilla Dwi Adha

Bisnis.com, JAKARTA — Pusat perbelanjaan yang didominasi tenant nonpangan tidak hanya menghadapi tantangan pemulihan tingkat kunjungan yang lama. Mal jenis ini juga harus bersaing langsung dengan ekosistem dagang-el (e-commerce).
 
Pengamat ritel sekaligus Staf Ahli Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) Yongky Susilo memperkirakan tekanan bisnis pada pusat perbelanja nonpangan bisa lebih berat.
 
“Pusat perbelanjaan seperti ITC itu tipe tempat perdagangan yang padat saat masa normal, jadi cenderung dihindari konsumen. Kecuali aktivitas b-to-b. Roda perdagangan akan pulih, tetapi perlahan. Kemungkinan untuk mal tipe ini juga perlahan,” kata Yongky, Selasa (31/8/2021).
 
Proses pemulihan yang lambat, kata Yongky, tidak lepas dari pengaruh jenis produk yang diperdagangkan. Transaksi produk gaya hidup seperti sandang dan elektronika dia nilai mulai beralih ke ekosistem dagang-el.
 
“Mereka kebanyakan menjual produk gaya hidup. Ini diserang oleh e-commerce. Perdagangan melalui e-commerce mayoritas menjual barang-barang gaya hidup,” katanya.
 
Selama pandemi, dia menyebutkan penjualan ritel produk gaya hidup cenderung menurun karena tidak menjadi prioritas konsumen. Hal inilah yang menyebabkan level pemulihannya cenderung lebih lama dibandingkan produk pangan.
 
Sementara itu berdasarkan segmen konsumennya, Yongky mengatakan pusat perbelanjaan yang menyasar konsumen kelas atas bisa pulih lebih lama. Kelompok masyarakat ini terbilang lebih selektif dalam beraktivitas karena kekhawatiran pandemi.
 
“Jadi mal yang segmen kelas atas itu paling sepi,” kata dia.
 
Di sisi lain, pusat perbelanjaan dengan segmen kelas menengah akan menikmati tingkat kunjungan yang lebih tinggi. Imbas dari optimisme belanja masyarakat di tengah penyesuaian protokol kesehatan.
 
“Sementara segmen kelas bawah, mereka gemar berkunjung ke mal. Pusat perbelanjaan adalah hiburan bagi mereka,” kata Yongky.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

mal pusat perbelanjaan ritel
Editor : Muhammad Khadafi

Artikel Terkait



Berita Lainnya

    Berita Terkini

    back to top To top