Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Vale Indonesia, 53 Tahun Membangun Peradaban di Bumi Nikel

Vale Indonesia memulai aktivitas penambangan bijih nikel dan produksi nikel dalam matte dengan membangun smelter Sorowako, Sulawesi Selatan.
Amri Nur Rahmat
Amri Nur Rahmat - Bisnis.com 29 Juli 2021  |  05:59 WIB
Aktivitas petugas Vale Indonesia pada area reklamasi dan rehabilitasi lahan pascatambang di Blok Sorowako - Dok./Vale Indonesia
Aktivitas petugas Vale Indonesia pada area reklamasi dan rehabilitasi lahan pascatambang di Blok Sorowako - Dok./Vale Indonesia

Bisnis.com, MAKASSAR - Sudah lebih dari setengah abad, PT Vale Indonesia Tbk. ikut membangun dan merawat peradaban Indonesia dengan segala konsistensi kontribusinya di 'Bumi Nikel'.

Hal tersebut tidak lepas dari penerapan prinsip pengelolaan tambang berkelanjutan yang dijalankan perseroan, di mana itu menyentuh sendi-sendi kehidupan sosial ekonomi masyarakat termasuk ekosistem lingkungan.

Praktik keberlanjutan dimanifestasikan secara nyata oleh Vale Indonesia melalui rangkaian strategi operasional yang adaptif terhadap teknologi, simultan dengan praktik pertambangan bertanggung jawab terhadap keberlanjutan lingkungan.

Ini terlihat sejak awal periode berdiri, Vale Indonesia telah melirik penggunaan energi baru terbarukan dengan membangun dan mengoperasikan PLTA (Pembangkit Listrik Tenaga Air) untuk mendukung aktivitas pertambangan.

Saat ini, perseroan tercatat telah mengoperasikan tiga PLTA yakni PLTA Larona (1979), PLTA Balambano (1999) dan PLTA Karebbe (2011). Setahun setelah beroperasinya PLTA Larona, Vale Indonesia memulai produksi komersial pertama. Saat ini, total kapasitas terpasang pada ketiga PLTA perseroan sebesar 365 megawatt.

Kehadiran PLTA telah berkontribusi positif untuk operasional dan pengurangan emisi karbon hingga 1,09 juta ton CO2 per tahun. Selain untuk kebutuhan operasional, listrik yang dihasilkan PLTA juga didistribusikan sebesar 10,7 megawatt untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat Luwu Timur melalui PLN (Perusahaan Listrik Negara).

Febriany Eddy, Presiden Direktur Vale Indonesia, mengemukakan pengoperasian PLTA menjadi bentuk pengendalian emisi yang dilakukan perseroan guna menuju penciptaan karbon netral pada proses produksi untuk jangka panjang.

"Sejak 2020, Vale Indonesia memulai langkah strategis Vale Power Shift yang berfokus pada penggunaan energi baru terbarukan dan bahan bakar alternatif, serta efisiensi dengan menggunakan teknologi baru," tuturnya. 

Secara bertahap, Vale Indonesia juga berupaya menekan emisi dari kegiatan rantai pasok yang dijalankan dengan mendorong pemasok maupun pelanggan memilili komitmen bersama mengurangi emisi karbon dari setiap aktivitas yang dijalankan.

Pada sisi lain, Vale Indonesia yang berdiri pada 25 Juli 1968 dengan nama awal PT International Nickel Indonesia itu memulai aktivitas penambangan bijih nikel dan produksi nikel dalam matte dengan membangun smelter Sorowako, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, setelah mengantongi kontrak karya (KK).

Sebagai informasi, Vale Indonesia beroperasi dalam naungan Kontrak Karya yang telah diamandemen pada 17 Oktober 2014 dan berlaku hingga 28 Desember 2025 dengan luas konsesi 118.017 hektare (ha). Lahan konsesi itu terletak di Sorowako seluas 70.566 ha, Pomalaa (Sulawesi Tenggara) seluas 24.752 ha, dan Bahodopi (Sulawesi Tengah) seluas 22.699 ha.

Reklamasi dan Rehabilitasi Pascatambang

Pada aktivitas pembukaan lahan tambang, Vale Indonesia secara terintegrasi melakukan reklamasi dan rehabilitasi lahan. Untuk mendukung reklamasi dan rehabilitasi pascatambang, perseroan memiliki fasilitas pembibitan pohon (nursery) seluas 2,5 ha dengan kapasitas produksi per tahun mencapai 700.000 bibit berbagai jenis tanaman maupun pohon asli setempat dan endemik.

Adapun pelaksanaan reklamasi pascatambang dilakukan dengan melibatkan pihak ketiga, dan memperhatikan UU No4/2009 tentang Penambangan Mineral dan Batubara. 

Pada 2020 lalu, luas lahan tambang yang direklamasi mencapai 176,24 hektare atau secara kumulatif luas lahan reklamasi pascatambang mencapai 3.012,44 hektare yang sudah direhabilitasi dikembalikan seperti awal peruntukannya. 

Vale Indonesia

Fasilitas pembibitan modern (nursery) Vale Indonesia di Blok Sorowako - Dok./Vale Indonesia

Sejalan dengan itu, untuk mengendalikan limbah cair di area tambang dan pabrik pengolahan, Vale Indonesia telah membangun lebih dari 100 pond (kolam pengendapan) di Blok Sorowako dilengkapi dengan fasilitas pengolahan air limbah (Pakalangkai Waste Water Treatment) dan Lamella Gravity Settler (LGS) yang beroperasi sejak 2015. 

Vale Indonesia tercatat sebagai perusahaan pertambangan pertama di Indonesia yang memanfaatkan teknologi LGS yang biasanya untuk pengolahan air minum. Selain itu, untuk pengendalian emisi debu dan partikulat di pabrik pengolahan nikel, perusahaan mengoperasikan EsP (Electrostatic Precipitator) dan Bag House (fasilitas penangkap debu dan partikulat) di tanur pelebur dan tanur pereduksi.

Berkat berbagai upaya pengelolaan tambang berkelanjutan, Vale Indonesia mendapatkan Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup disingkat Proper dengan kategori Biru dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada Juni 2020. Proper Biru menunjukkan upaya mengelola lingkungan melalui pelaksanaan sistem manajemen lingkungan, pemanfaatan sumber daya secara efisien, dan pemberdayaan masyarakat. 

Kinerja Bisnis Vale Indonesia

Pada sisi bisnis, Vale Indonesia tercatat pertama kali masuk ke pasar modal pada 1990 dengan melepas 20 persen saham ke publik. Selanjutnya, pada 2020 perseroan telah menyelesaikan penjualan dan pengalihan 20 persen ke PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero). 

Vale Indonesia mencatatkan kinerja sangat konsisten khususnya dari sisi produksi. Selama 5 tahun terakhir, produksi nikel dalam matte selalu berada di atas 70.000-an metrik ton per tahun. Kinerja laba Vale juga menunjukkan tren positif. 

Pada 2020, emiten berkode INCO ini berhasil mencetak laba sebesar US$82,82 juta (setara dengan Rp1,16 triliun, kurs Rp14.000/US$), naik 44,28 persen dibandingkan 2019 sebesar US$57,40 juta atau setara Rp804 miliar. 

Menurut Febriany Eddy, seiring dengan naiknya kebutuhan nikel untuk pengembangan kendaraan listrik, Vale Indonesia melihat prospek usaha yang meningkat. 

“Peningkatan ini merupakan peluang usaha yang menjadi tantangan tersendiri bagi Vale Indonesia untuk mampu menjalankan produksi secara maksimal dengan tetap beroperasi sesuai target dan sasaran,” tambahnya. 

Sejalan dengan kinerja tersebut, Vale Indonesia menunaikan kewajiban pembayaran pajak dan PNBP kepada pemerintah dengan nilai US$72,9 juta ekuivalen Rp1,02 triliun (kurs Rp14.000/US$) pada tahun pelaporan 2020.

Vale Indonesia

Kawasan permukiman yang dikembangkan di sekitar wilayah operasi Vale Indonesia - Dok./Vale Indonesia

Segala capaian dan kontribusi dari Vale Indonesia ini merupakan buah strategi yang dijalankan perusahaan, termasuk dalam mereduksi dampak pandemi Covid-19 yang melanda dunia sejak awal 2020. 

Bahkan, tidak ada pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap karyawan Vale Indonesia, akibat dampak pandemi. Perseroan tetap melakukan kegiatan operasi dan produksi, dengan protokol kesehatan ketat, sembari terus membuka lapangan pekerjaan, termasuk ke pemasok lokal yang saat ini mencapai 295 dan jumlah karyawan pada 2020 mencapai 3.006 orang.

Konektivitas dan Program Sosial

Dari sisi kontribusi terhadap aksesibilitas dan mobilitas transportasi udara, Vale Indonesia juga telah merealisasikan komitmennya mendukung upaya pemerintah menciptakan konektivitas udara antarwilayah di Sulsel.

Itu dimanifestasikan melalui MoU antara perseroan dengan Pemprov Sulsel perihal pengelolaan Bandara Sorowako yang bakal dilimpahkan ke pemerintah, di mana sebelumnya dilaksanakan secara eksklusif oleh Vale Indonesia.

"Ini tentu menjadi wujud perhatian Vale Indonesia kepada masyarakat Sulsel,  khususnya masyarakat Luwu Timur yang harus diapresiasi oleh pemerintah," ungkap Plt Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman.

Menurutnya, ini sekaligus sebagai bentuk komitmen Vale Indonesia kepada pemerintah untuk mengembangkan Bandara Sorowako sebagai bandara pelayanan umum.

Lebih jauh, Andi Sudirman Sulaiman mengaku Pemerintah Provinsi Sulsel akan terus berkomitmen mendukung dan mendorong Vale Indonesia menjadi pilar percontohan investasi yang peduli pada masyarakat, lingkungan serta terus membangun sinergitas bersama pemerintah.

Selain konektivitas perhubungan, Vale Indonesia juga secara berkelanjutan menjalankan program sosial perusahaan melalui Program Pengembangan Masyarakat (PPM). 

Terkait implementasinya, perseroan menggandeng Direktorat Jenderal Pembangunan Kawasan Perdesaan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT), Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Provinsi Sulsel, serta Pemerintah Kabupaten Luwu Timur terkait pelaksanaan Program Pengembangan Masyarakat tersebut.

Sejak 2015, perseroan telah membina petani di wilayah pemberdayaan untuk mempraktikan pertanian sehat ramah lingkungan melalui budidaya padi organik. Kemudian pada 2017 perusahaan melakukan pembinaan dan pendampingan bagi usaha mikro, kecil dan menengah di wilayah pemberdayaan. 

Hingga saat ini, ada sekitar 38.000 jiwa di wilayah pemberdayaan perseroan sebagai penerima manfaat dari pelaksanaan PPM.

Vale Indonesia

Kota Sorowako dan Danau Matano di Luwu Timur, Sulawesi Selatan - Dok./Vale Indonesia

Secara umum, Vale Indonesia akan terus berupaya mencapai target agenda pertumbuhan perusahaan pada 2030. Untuk mendukung rencana tersebut, perseroan telah membentuk anak usaha yang akan mengelola unit Smelter Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) di Bahodopi, serta unit smelter High Pressure Acid Leach (HPAL) di Pomalaa.

Perseroan juga berencana membangun kembali tanur listrik 4 pada 2021, untuk meningkatkan kapasitas produksi nikel dalam matte. Sejalan dengan itu, Vale Indonesia akan tetap fokus pada optimalisasi kapasitas produksi, meningkatkan efisiensi, dan mengurangi biaya mengingat harga nikel berada di luar kendali perseroan.

Dari seluruh proses bisnis ramah lingkungan itulah Vale Indonesia menjanjikan pertumbuhan berkelanjutan dan merawat peradaban di Bumi Nikel.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pertambangan sulsel Nikel vale indonesia tbk inco
Editor : Oktaviano DB Hana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top