Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Prospek Properti, Rumah Tapak Masih Jadi Incaran Konsumen

Butuh waktu 2—3 bulan dari selesainya PPKM untuk membuat konsumen kembali memiliki keberanian membeli rumah.
Yanita Petriella
Yanita Petriella - Bisnis.com 28 Juli 2021  |  08:17 WIB
Prospek Properti, Rumah Tapak Masih Jadi Incaran Konsumen
Deretan rumah tapak di kawasan Padasuka Atas, Bandung, Jawa Barat, Rabu (17/10/2018). - JIBI/Rachman
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA—Para pengembang dan konsultan properti meyakini sektor rumah tapak dapat bertahan dan masih memiliki prospek yang bagus di semester II tahun ini.

Direktur Sales & Marketing Paramount Land M. Nawawi mengatakan bahwa kondisi sektor rumah tapak pada semester II tahun 2021 akan mengalami koreksi penjualan akibat diberlakukannya PPKM darurat pada bulan ini.

Namun demikian, rumah tapak masih memiliki prospek yang lebih baik dibandingkan dengan sektor properti lainnya.

“Jadi di semester kedua ini akan ada koreksi penjualan rumah karena pemberlakuanPPKM di Juli ini. Kalau sudah selesai akan kembali meningkat lagi penjualan properti,” ujarnya kepada Bisnis, Selasa (27/7/2021).

Menurutnya, butuh waktu 2—3 bulan dari selesainya PPKM untuk membuat konsumen kembali memiliki keberanian membeli rumah.

Adapun, hingga semester I/2021, Paramount Land berhasil meraup marketing sales Rp2 triliun. Perolehan marketing sales pada semester I/2021 itu meningkat drastis apabila dibanding dengan periode sama tahun lalu yang hanya Rp770 miliar.

Dia menilai, kenaikan penjualan terjadi karena beberapa hal seperti program stimulasi free PPN yang sangat membantu menciptakan pasar baru. Program tersebut juga memberikan keberanian dan keinginan masyarakat untuk membeli properti.

Di sisi lain, Nawawi juga tak memungkiri pandemi Covid-19 yang belum usai dan penerapan PPKM membuat ceruk pasar rumah segmen Rp1 miliar ke bawah berkurang. Hal itu dikarekan para calon konsumen mengalami ketidakpastian usaha dan terkena penyesuaian upah hingga dilakukannya PHK.

“Kalau segmen Rp1,5 miliar hingga Rp2 miliar ini pemilik usahanya masih memiliki uang meskipun usahanya macet. Mereka kalau mau deposito kondisi sekarang sangat kecil sekali bunganya, jadi pilihannya ya membeli properti sebagai investasi,” tuturnya.

Sementara itu, Head of Research Jones Lang LaSalle (JLL) Yunus Karim memproyeksikan para pengembang properti rumah tapak diperkirakan akan tetap aktif membangun hunian karena permintaan yang masih tinggi.

Adapun, tingkat penjualan rumah tapak pada semester I/2021 mengalami kenaikan menjadi 83% dari tahun lalu yang sebesar 72%.

“Sejak tahun lalu keaktifan pengembang untuk menciptakan produk ini mendapatkan respon yang bagus dari pasar, sehingga kondisi itu berlanjut di semester I tahun ini,” ujarnya.

Permintaan rumah tapak didominasi oleh end user, sehingga membuat rumah tapak bisa bertahan selama pandemi. Selain itu, keterjangkauan harga produk juga membuat rumah tapak masih diminati konsumen.

“Salah satu alasan rumah tapak punya peforma yang cukup baik, karena kami mencatat pada semester I/2021 hampir 80 persen produk yang terjual memiliki harga di bawah Rp1,3 miliar,” katanya.

Pada semester I/2021, lanjutnya, terdapat penambahan 7.800 meter persegi rumah tapak dan sebanyak 37.700 unit yang belum selesai ditawarkan di pasar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bisnis properti rumah tapak
Editor : Lili Sunardi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top