Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Yuan Digital Jadi Ancaman Serius bagi Dolar AS

China telah meluncurkan yuan digitalnya ke lebih dari satu juta warga China, sementara AS sebagian besar masih fokus pada penelitian.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 26 Juli 2021  |  11:43 WIB
Yuan. - .Bloomberg
Yuan. - .Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - China berhasil mengalahkan Amerika Serikat dalam hal inovasi pada uang digital dan hal ini dapat menimbulkan tantangan terhadap status dolar AS sebagai cadangan moneter de facto global.

Hampir 80 negara – termasuk China dan AS – tengah dalam proses mengembangkan CBDC, atau Mata Uang Digital Bank Sentral.

Mata uang ini adalah alat tukar resmi bank sentral tetapi sepenuhnya online. China telah meluncurkan yuan digitalnya ke lebih dari satu juta warga China, sementara AS sebagian besar masih fokus pada penelitian.

Dua kelompok yang ditugaskan untuk penelitian ini di AS, Inisiatif Mata Uang Digital MIT dan Federal Reserve Bank of Boston, sedang mengurai seperti apa mata uang digital bagi orang Amerika. Privasi adalah perhatian utama, sehingga para peneliti dan analis mengamati peluncuran yuan digital China.

“Saya pikir jika ada dolar digital, privasi akan menjadi bagian yang sangat, sangat penting dari itu. Amerika Serikat sangat berbeda dari China,” kata Neha Narula, direktur Inisiatif Mata Uang Digital di MIT Media Lab, dilansir CNBC International, Senin (26/7/2021).

Kekhawatiran lainnya adalah akses. Menurut Pew Research Center, 7 persen orang Amerika mengatakan mereka tidak menggunakan internet.

Bagi warga kulit hitam, angkanya naik menjadi 9 persen, dan untuk orang di atas usia 65, naik menjadi 25 persen. Adapun penyandang disabilitas sekitar tiga kali lebih mungkin untuk mengatakan bahwa mereka tidak pernah online dibandingkan yang tidak memiliki disabilitas.

“Sebagian besar pekerjaan yang kami lakukan mengasumsikan bahwa CBDC akan hidup berdampingan dengan uang tunai fisik dan pengguna masih dapat menggunakan uang tunai fisik jika mereka mau,” kata Narula.

Gagasan CBDC di AS sebagian ditujukan untuk memastikan dolar tetap menjadi pemimpin moneter dalam ekonomi dunia.

“Amerika Serikat seharusnya tidak bergantung pada kepemimpinannya saat ini di bidang ini. Ini harus mendorong ke depan dan mengembangkan strategi yang jelas untuk bagaimana tetap sangat kuat dan memanfaatkan kekuatan dolar, ”kata Darrell Duffie, profesor keuangan di Sekolah Pascasarjana Bisnis Universitas Stanford.

Sedangkan yang lain melihat yuan digital sebagai sesuatu yang berbahaya.

“Yuan digital adalah ancaman terbesar bagi Barat yang kami hadapi dalam 30 - 40 tahun terakhir. Ini memungkinkan China untuk mendapatkan cakar mereka ke semua orang di Barat dan memungkinkan mereka untuk mengekspor otoritarianisme digital mereka,” kata Kyle Bass dari Hayman Capital Management.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

dolar as china yuan
Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top