Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Perusahaan Didesak untuk Memikirkan Ulang Denah Ruang Kantor

Memasuki era kenormalan baru dengan pola kerja yang bertransformasi menjadi hibrida yakni sebagian besar di rumah, ruang kerja perkantoran perlu dikaji lagi untuk kemungkinan perubahannya.
Yanita Petriella
Yanita Petriella - Bisnis.com 11 Juni 2021  |  21:06 WIB
Ilustrasi kegiatan perkantoran, file foto Februari 2012. - Reuters
Ilustrasi kegiatan perkantoran, file foto Februari 2012. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Memasuki era new normal, perusahan semakin banyak menghadapi desakan untuk memikirkan kembali denah ruang kantor mereka.

Berdasarkan laporan Jones Lang Lasalle (JLL) dalam Benchmaking Cities and Real Estate, seiring dengan pemulihan kota-kota dari situasi pandemi, perkantoran diharapkan kembali aktif di kawasan pusat bisnis (central business district/CBD) dengan ruang kerja yang lebih efisien dan produktif yang mencerminkan standar kesehatan dan kesejahteraan yang tinggi.

Survei global JLL menunjukkan bahwa 37 persen karyawan mengharapkan lingkungan kerja yang berjarak di masa depan.

Lead Director Global Cities Research JLL Jeremy Kelly mengatakan kebutuhan bisnis untuk memantau pemanfaatan serta metrik kepadatan ruang kantor untuk membantu menentukan kebutuhan ruang kantor mereka di masa depan.

“Metrik yang dapat mengukur pengalaman manusia menjadi semakin penting bagi perusahaan serta untuk kota itu sendiri,” ujarnya melalui keterangan tertulis pada Jumat (11/6/2021).

Saat memasuki siklus pemulihan berikutnya, diharapkan perkantoran di kawasan pusat bisnis akan kembali menjadi pusat sosial dan bisnis yang telah beradaptasi untuk mengakomodasi cara orang ingin bekerja dan hidup pada masa depan.

Kota-kota yang memiliki kepadatan di tempat kerja sebelum pandemi cenderung menghadapi tekanan untuk mengurangi kepadatan. Kota-kota ini terbagi dalam tiga kelompok yakni pertama pusat bisnis global seperti Hong Kong, London, dan Singapura, dengan kepadatan 10 meter persegi per orang.

Kedua, destinasi outsourcing proses bisnis seperti Manila dan Bengaluru India di mana kebutuhan bisnis dan penggunaan ruang yang intensif telah mendorong kepadatan hingga serendah 7 meter persegi per orang.

"Ketiga mega-hub yang sedang berkembang seperti Jakarta dan Mumbai India yang menyediakan layanan bisnis untuk pasar nasional yang besar dan berkembang dengan kepadatan dari 9 hingga 11 meter persegi per orang," kata Jeremy.

Head of Research JLL Indonesia Yunus Karim berpendapat sangat menarik untuk mengamati masa depan ruang perkantoran pasca pandemi, khususnya di Jakarta sebagai salah satu kota dengan rasio luas ruang perkantoran terhadap orang yang relatif cukup padat dibandingkan kota-kota global lainnya.

Menurutnya, perusahaan harus beradaptasi dengan perubahan cara kerja dan memiliki strategi untuk mengakomodasi kebutuhan pasca pandemi mengingat ruang perkantoran akan tetap berperan sebagai pusat kolaborasi dan sosialisasi bagi para karyawannya.

Dalam pemulihan pasca-pandemi, beberapa tahun ke depan akan menjadi sangat penting ketika perusahaan dan kota menetapkan dan bekerja bersama menuju target keberlanjutan yang ambisius.

"Memahami bagaimana pemanfaatan ruang dan metrik kepadatan okupansi berdampak pada konsumsi energi dan air serta limbah menjadi semakin penting. Kepadatan okupansi yang lebih ketat biasanya berarti biaya dan konsumsi energi yang lebih rendah per orang. Skenario keberlanjutan di masa depan perlu mempertimbangkan pertukaran antara kepadatan dan efisiensi ini," tutur Yunus.

Head of JLL’s Global Benchmarking Services Victoria Mejevitch menambahkan layanan Benchmarking Global JLL mengukur dan melaporkan total biaya real estat per orang termasuk jumlah ruang yang digunakan, kepadatan okupansi, dan metrik biaya operasional yang memberdayakan bisnis untuk membuat keputusan berdasarkan data tentang perencanaan ruang saat ini dan masa depan.

Pemerintah kota juga menggunakan metrik ini untuk memahami bagaimana bangunan digunakan dan seberapa efisien mereka menggunakan sumber daya, yang pada saatnya menginformasikan kebijakan perkotaan dan lingkungan.

“Memiliki dasar kinerja konsisten yang dapat dibandingkan dengan tolok ukur eksternal lokal di seluruh lokasi dunia akan memberikan organisasi kepercayaan diri untuk menerapkan perubahan disaat orang-orang mulai kembali ke kantor di pusat kota,” ucapnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perkantoran bisnis properti
Editor : M. Syahran W. Lubis

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top