Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Investasi Real Estat Subsektor Perhotelan Asia Pasifik Tetap Menarik

Konsultan properti Colliers International menyatakan investasi di bidang perhotelan untuk Asia Pasifik tetap menarik. Pada Maret 2021, hotel-hotel di Sydney mencatatkan okupansi yang lebih tinggi dibandingkan dengan Maret 2020, menunjukkan pasar mulai pulih. Di Jepang, perhotelan masih menarik bagi investor karena prospek tetap positif; harga tetap kuat dalam jangka menengah setelah sedikit mundur selama pandemi Covid-19.
M. Syahran W. Lubis
M. Syahran W. Lubis - Bisnis.com 02 Juni 2021  |  21:42 WIB
Hotel di Tokyo, Jepang, foto file Januari 2017. - Reuters
Hotel di Tokyo, Jepang, foto file Januari 2017. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Investasi real estat subsektor perhotelan di sejumlah kota regional di Asia Pasifik tetap menarik, ungkap konsultan properti Colliers International dalam laporan Hotel Insights Q2 2021 yang diterbitkan pada Rabu (2/6/2021).

Govinda Singh, Direktur Eksekutif, Layanan Penilaian & Penasihat Colliers untuk Asia, menyatakan prospek ekonomi global terus membaik, dengan kembalinya perjalanan yang hati-hati didukung oleh rebound permintaan domestik, seperti yang terlihat di AS, Inggris, dan China.

“Saat peluncuran vaksinasi semakin cepat dan semakin banyak jalur hijau atau koridor terbuka, kami mengharapkan pemulihan cepat yang dipimpin oleh permintaan rekreasi yang terpendam, diikuti oleh bisnis,” paparnya.

Dia mengemukakan hotel di seluruh Asia Pasifik harus terus menarik modal. Hasil, meskipun saat ini relatif rendah, mencerminkan pertumbuhan nilai modal yang melampaui pendapatan, tetapi ini akan meningkat ke tingkat historis seiring dengan peningkatan kinerja.

“Bagi mereka yang ingin berinvestasi, sebagian besar kota-kota regional di Asia Pasifik tetap menarik,” ungkap Singh.

Dia mengemukakan peningkatan perjalanan antarnegara bagian di Australia meningkatkan kinerja perhotelan di Sydney.

Pada 2019, hotel-hotel di Sydney mencapai tingkat okupansi sepanjang tahun sebesar 85,4 persen. Namun, pada 2020, tingkat hunian setahun penuh turun secara signifikan pada level terendah dalam sejarah sebesar 43 persen, dibandingkan dengan periode yang sama pada 2019, karena pembatasan perjalanan akibat Covid-19.

Permintaan hotel pada 2020 sebagian besar berasal dari mereka yang melakukan masa karantina wajib di hotel dan sebagian kecil dari permintaan rekreasi intranegara bagian.

Pada Maret 2021, hotel-hotel di Sydney mencatatkan okupansi yang lebih tinggi dibandingkan dengan Maret 2020 dengan tingkat okupansi 48,8 persen, dibandingkan dengan 47 persen pada Maret 2020. “Ini mungkin menandakan bahwa pasar mulai pulih,” kata Singh.

Gus Moors, Kepala Hotel, Layanan Transaksi Hotel Colliers International Australia, mengemukakan permintaan hotel saat ini didominasi para tamu yang menjalani masa karantina wajib mereka dan sebagian kecil dari permintaan rekreasi di dalam negeri.

Angka kinerja hotel terbaru untuk Maret 2021 memang menunjukkan beberapa peningkatan, dan seiring meningkatnya perjalanan antarnegara bagian, kinerja ini diperkirakan meningkat sepanjang tahun.

“Dengan semakin banyaknya orang yang divaksinasi dan pembatasan perjalanan dilonggarkan, permintaan perjalanan dari wisatawan domestik dan internasional kemungkinan akan meningkat,” kata Moors.

Di Jepang, perhotelan masih menarik bagi investor karena prospek tetap positif; harga tetap kuat dalam jangka menengah setelah sedikit mundur selama pandemi Covid-19.

Pada 2021 dan sepanjang 3 bulan pertama 2022, pasar akomodasi Jepang sebagian besar akan didukung oleh permintaan domestik dengan sedikit permintaan dari pengunjung internasional kecuali untuk kapasitas terbatas yang akan diambil oleh Olimpiade yang tertunda pada semester kedua 2021, mengingat pembatasan saat ini.

Ada kemungkinan permintaan akomodasi dari pengunjung internasional akan pulih setelah pembatasan tur tamasya dilonggarkan dan Covid-19 diselesaikan melalui pemberian vaksin dan berbagai langkah kebijakan lainnya.

Kemungkinan jumlah pengunjung internasional yang masuk tidak akan pulih menjadi 30 juta per tahun sampai setelah permintaan akomodasi domestik pulih, dan tentu saja tidak sebelum 2023.

Secara keseluruhan Asia Pasifik, Colliers melihat penawaran terbatas karena pemilik hotel masih wait and see.

Investor telah lebih percaya pada hotel di daerah perkotaan dan tujuan resor yang mapan, dengan transaksi hotel dengan layanan terbatas masih lebih tinggi dari level 2017.

Selain itu, Colliers mencatat bahwa beberapa hotel telah berhasil mencapai titik impas dengan sedikit perjalanan wisata dan kedatangan bisnis yang diperpanjang, sementara yang lain menjadi fasilitas karantina.

Meskipun jalur hijau untuk perjalanan bisnis telah muncul, perkembangan gelembung perjalanan berjalan lambat. Transaksi di area seperti Pasifik Selatan dan Asia Tenggara dibatasi, dengan pemilik mengadopsi pendekatan wait and see.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bisnis properti perhotelan
Editor : M. Syahran W. Lubis

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

To top