Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pengamat Penerbangan: Sudah Waktunya Garuda Indonesia Restrukturisasi

Manajemen Garuda Indonesia tengah dalam tahap awal penawaran program pensiun yang dipercepat atau pensiun dini bagi karyawan.
Rahmi Yati
Rahmi Yati - Bisnis.com 23 Mei 2021  |  21:11 WIB
Teknisi beraktivitas di dekat pesawat Boeing 737 Max 8 milik Garuda Indonesia, di Garuda Maintenance Facility AeroAsia, bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Rabu (13/3/2019). - Reuters/Willy Kurniawan
Teknisi beraktivitas di dekat pesawat Boeing 737 Max 8 milik Garuda Indonesia, di Garuda Maintenance Facility AeroAsia, bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Rabu (13/3/2019). - Reuters/Willy Kurniawan

Bisnis.com, JAKARTA - Pengamat dari Jaringan Penerbangan Indonesia (Japri) Gerry Soedjatman menilai Garuda Indonesia sudah waktunya melakukan restrukturisasi.

Menurutnya, kondisi emiten berkode saham GIAA itu sudah parah. Pasalnya, berdasarkan informasi yang beredar, pendapatan Garuda Indonesia sama dengan jumlah yang harus dikeluarkan untuk biaya sewa pesawat.

"Kalau nggak salah pendapatan mereka sekarang sama dengan yang mereka gunakan untuk sewa pesawat. Membayar yang lain bagaimana," katanya kepada Bisnis, Minggu (23/5/2021).

Dia menyebut program pensiun dini yang ditawarkan Garuda saat ini memang pilihan yang cukup efektif melihat jumlah karyawan dan kegiatan yang terbilang besar dan butuh biaya tidak sedikit.

Lebih lanjut, dia menilai pengurangan pekerja pasti harus dilakuan dan tentu dengan menawarkan pilihan terlebih dulu. Namun, jelasnya, Garuda harus lebih terbuka dan komunikatif soal hal itu sehingga orang juga bisa paham kalau mereka melakukan ini memang harus dan terpaksa.

"Mau diapain sekarang. Garuda udah waktunya emang untuk restrukturisasi. Cuma [pertanyaannya] asal restrukturisasi atau benar-benar diselesaikan masalah-masalahnya," sebutnya.

Kendati begitu, Gerry mengaku khawatir program pensiun ini tidak membantu meringankan beban Garuda. Pasalnya, di tengah kondisi pandemi saat ini, para karyawan akan lebih memilih bertahan daripada pensiun dini.

"Saya juga nggak akan kaget kalau banyak yang merasa, ah belum parah kok sebenarnya. Mereka hanya mengada-ngada saja. Namun menurut saya kondisi Garuda itu sudah parah," imbuhnya.

Sebelumnya, Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengaku bahwa manajemen tengah dalam tahap awal penawaran program pensiun yang dipercepat atau pensiun dini bagi karyawan Garuda Indonesia yang memenuhi kriteria dan persyaratan keikutsertaan program tersebut.

Penawaran program ini dilakukan sejalan dengan upaya pemulihan kinerja usaha yang tengah dijalankan perusahaan guna menjadikan Garuda Indonesia, perusahaan yang lebih sehat serta adaptif menjawab tantangan kinerja usaha di era kenormalan baru.

Dia menyebut situasi pandemi yang masih terus berlangsung hingga saat ini, mengharuskan perusahaan melakukan langkah penyesuaian aspek supply & demand ditengah penurunan kinerja operasi imbas penurunan trafik penerbangan yang terjadi secara signifikan.

"Perlu kiranya kami sampaikan bahwa program pensiun dipercepat ini ditawarkan secara sukarela terhadap karyawan yang telah memenuhi kriteria. Kebijakan ini menjadi penawaran terbaik yang dapat kami upayakan terhadap karyawan ditengah situasi pandemi saat ini, yang tentunya senantiasa mengedepankan kepentingan bersama seluruh pihak, dalam hal ini karyawan maupun perusahaan," jelasnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Garuda Indonesia maskapai penerbangan
Editor : Oktaviano DB Hana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top