Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pelaku Usaha Pengolahan Kedelai Tak Khawatir Soal Pasokan & Harga

Tata niaga impor kedelai yang tak lagi diatur disebut bakal menciptakan keseimbangan pasokan baru di tengah tren kenaikan harga.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 22 Mei 2021  |  08:09 WIB
Pekerja menyortir kedelai yang baru tiba di gudang penyimpanan di Kawasan Kebayoran Lama, Jakarta, Senin (15/2/2021). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Pekerja menyortir kedelai yang baru tiba di gudang penyimpanan di Kawasan Kebayoran Lama, Jakarta, Senin (15/2/2021). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA — Pelaku usaha pengolahan kedelai memastikan aktivitas impor dan stok komoditas tersebut tidak akan terganggu meskipun permintaan dari China diproyeksi terus menguat dan akan mengerek harga. 

Tata niaga impor kedelai yang tak lagi diatur disebut bakal menciptakan keseimbangan pasokan baru di tengah tren kenaikan harga.

“Importir kan sudah rutin melakukan pembelian, kalau ada kenaikan harga pun biasanya menyesuaikan juga seperti apa permintaan perajin. Saya pastikan aktivitas impor tetap berlanjut dan tidak ada kelangkaan,” kata Direktur Asosiasi Kedelai Indonesia (Akindo) Hidayat, Jumat (21/5/2021).

Hidayat menyampaikan pula bahwa stok kedelai untuk bulan ini dan Juni cenderung aman mengingat aktivitas produksi tahu dan tempe sempat terhenti saat libur Lebaran. Di sisi lain, impor kedelai selama kuartal I/2021 juga cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan tahun lalu.

“Stok saya perkirakan aman karena kemarin produksi sempat berkurang karena Lebaran,” kata dia.

Seperti dikutip dari data Badan Pusat Statistik (BPS), volume impor selama Januari sampai Maret 2021 mencapai 699.680 ton atau naik 22,42 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu ketika impor kedelai berjumlah 571.539 ton.

Sementara itu, kenaikan nilai impor selama kuartal I/2021 mencapai 60,98 persen dari US$230,67 juta menjadi US$371,34 juta. Kenaikan nilai impor yang lebih tinggi ini menjadi tanda kenaikan harga komoditas tersebut.

Di sisi lain, data Kementerian Perdagangan per 11 Mei 2021 memperlihatkan bahwa stok indikatif kedelai mencapai 520.000 ton. Dengan kebutuhan bulanan di kisaran 250.000 ton, stok yang tersedia saat ini cukup untuk memenuhi kebutuhan selama 2,1 bulan.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kedelai industri tahu tempe
Editor : Zufrizal

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top