Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Lambatnya Vaksinasi Jepang Dikritik karena Membahayakan Ekonomi

Realisasi PDB Jepang yang menyusut 5,1 persen pada kuartal I/2021 menyudahi pemulihan dua kuartal berturut-turut pada tahun lalu serta meningkatkan potensi resesi double-dip di ekonomi terkuat ketiga di dunia itu.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 18 Mei 2021  |  14:22 WIB
Jembatan Pelangi dihiasi lambang Olimpiade di Tokyo, Jepang./Antara - Reuters
Jembatan Pelangi dihiasi lambang Olimpiade di Tokyo, Jepang./Antara - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Produk domestik bruto Jepang yang kembali ke level kontraksi pada kuartal pertama tahun ini yakni menyusut 5,1 persen secara tahunan dibandingkan kuartal sebelumnya.

Realisasi ini menyudahi pemulihan dua kuartal berturut-turut pada tahun lalu serta meningkatkan potensi resesi double-dip di ekonomi terkuat ketiga di dunia itu.

Para eksekutif bisnis di Jepang mulai menyuarakan keprihatinan lambatnya peluncuran vaksin dan memperingatkan bahwa hal itu meningkatkan risiko pada pemulihan ekonomi.

"Di antara negara-negara maju, Jepang adalah masalah terbesar," kata Takehiko Kakiuchi, CEO Mitsubishi Corp., dalam laporan pendapatan baru-baru ini, dilansir Bloomberg, Selasa (18/5/2021).

Laju vaksinasi tetap lambat meski Jepang memiliki akses ke puluhan juta dosis suntikan Pfizer Inc dan BioNTech SE serta tidak menghadapi kekurangan pasokan seperti beberapa negara berkembang. Saat ini, vaksin itu adalah satu-satunya yang disetujui untuk penggunaan lokal dan peluncurannya terbatas pada petugas kesehatan dan lansia di atas usia 65 tahun.

Sementara itu, Jepang bernasib lebih baik selama pandemi dibandingkan dengan negara-negara Barat lainnya karena dapat membendung jumlah kematian dan infeksi, di mana hanya 2 persen dari populasi negara kepulauan itu yang telah diinokulasi, terendah di antara 37 anggota Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD).

Peluncuran yang lambat juga memicu kekhawatiran publik atas penundaan Olimpiade Tokyo, yang dijadwalkan pada 23 Juli. Sebuah jajak pendapat akhir pekan oleh surat kabar Yomiuri menunjukkan 59 persen responden mengatakan pertandingan tersebut harus dibatalkan.

Pada saat yang sama, kota metropolitan dan kota-kota besar lainnya sedang berjuang untuk mengendalikan gelombang kasus baru yang disebabkan oleh penyebaran varian virus. “Saya sangat berharap kita akan melihat percepatan vaksinasi, ini sangat penting; jika tidak, Anda akan mengalami lonjakan varian baru, "kata Christophe Weber, CEO produsen obat terbesar Jepang Takeda Pharmaceutical Co.

Menurutnya peluncuran vaksinasi di Jepang berada pada level yang sama dengan Eropa beberapa bulan yang lalu dan berharap kecepatannya akan segera meningkat.

Kritik atas lambatnya laju vaksinasi semakin meningkat karena banyak bisnis Jepang melaporkan laba dan penjualan yang lebih lemah untuk tahun fiskal yang mencakup 12 bulan hingga Maret 2021, periode ketika konsumsi, produksi dan perjalanan dibatasi seiring ekonomi terhambat penguncian untuk menahan infeksi.

“Jika vaksinasi tidak dipercepat, wisatawan tidak akan kembali dan itu berdampak pada pemulihan perusahaan kami,” kata Takayuki Yokota, kepala keuangan raksasa kecantikan Shiseido Co., yang sebelum pandemi didukung oleh gelombang turis.

Menghadapi tekanan yang memuncak, Perdana Menteri Yoshihide Suga mengatakan bahwa pemerintah akan berupaya menggenjot hingga satu juta suntikan setiap hari, meskipun dia tidak memberikan target kapan itu akan terjadi. Rata-rata dosis harian yang diberikan dalam 7 hari terakhir adalah sekitar 200.000, naik dari rata-rata sekitar 155.000 suntikan per hari pada minggu terakhir April.

Bulan lalu, Asosiasi Ekonomi Baru Jepang merilis petisi yang menyerukan tindakan vaksinasi yang lebih cepat dan efisien. Lebih dari 50 eksekutif membubuhkan tanda tangan mereka, termasuk Masanori Mochida, kepala Goldman Sachs Group Inc. di Jepang, dan Akio Nitori, CEO raksasa furnitur Nitori Holdings Co.

Sebagian besar tanda tangan berada di industri yang terkena pembatasan pandemi, seperti hotel, tempat makan dan minuman beralkohol. “Perekonomian Jepang perlu bangkit kembali, atau keadaan akan menjadi sulit,” kata CEO Rakuten Group Inc. Hiroshi Mikitani.

Pendiri perusahaan e-commerce tersebut mengatakan bahwa dia akan terus mendorong pemerintah Suga untuk menemukan cara yang lebih baik untuk meluncurkan vaksin dan siap membantu.

Adapun, yang menambah pukulan bagi ekonomi adalah tindakan darurat saat ini untuk mengurangi gelombang infeksi baru yang sekali lagi membebani sistem medis. Restoran telah diminta untuk berhenti menyajikan alkohol dan banyak area perbelanjaan tutup lebih awal atau seluruhnya hingga akhir Mei.

Maka tidak mengherankan jika operator department store Isetan Mitsukoshi Holdings Ltd. mengumumkan kerugiannya yang kedua kali berturut-turut. Setiap pemulihan akan bergantung pada laju vaksinasi. "Jika vaksinasi berlanjut seperti yang diumumkan pemerintah, maka pendapatan kami akan tumbuh dengan cepat," kata Toshiyuki Hosoya, CEO Isetan Mitsukoshi Holdings.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jepang ekonomi jepang Vaksin Covid-19

Sumber : Bloomberg

Editor : Ropesta Sitorus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top