Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kendaraan Listrik Bisa Tekan Defisit Transaksi Berjalan

Sejauh ini sejumlah pabrikan telah berkomitmen memproduksi mobil listrik di Indonesia, seperti Hyundai, Toyota, dan Mitsubishi. Perusahaan otomotif asal Korea Selatan dan Jepang itu menilai kendaraan listrik akan menjadi tren masa depan.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 17 Mei 2021  |  07:32 WIB
Menteri BUMN Erick Thohir di Bali meninjau SPKLU PLN untuk pengisian energi mobil listrik. - Istimewa
Menteri BUMN Erick Thohir di Bali meninjau SPKLU PLN untuk pengisian energi mobil listrik. - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA — Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) dari unsur pemangku kepentingan Satya Widya Yudha mengatakan kesuksesan implementasi kendaraan listrik akan mengurangi pemakaian bahan bakar minyak (BBM). Dengan demikian dapat menekan defisit transaksi berjalan Indonesia. 

"Kalau kita punya 2 juta sepeda motor listrik, 2.000 mobil listrik, dan 600 bus listrik maka setidaknya kita bisa menghemat 2,35 juta barel BBM dalam setahun," kata Satya belum lama ini.

Menurut dia, pengurangan emisi karbon di sektor perhubungan didominasi oleh subsektor transportasi darat. "Dengan demikian, gagasan Kemenhub untuk menggenjot penggunaan mobil listrik sangat lah beralasan," ujarnya.

Namun, Satya menilai untuk menarik minat masyarakat memakai mobil listrik secara komersial perlu diberikan insentif baik fiskal, maupun nonfiskal seperti bebas parkir, tidak membayar tarif jalan tol, atau cash back saat pembelian.

Ditambah lagi, lanjutnya, pemerintah harus memulai terlebih dahulu dengan membangun stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) secara masif.

"Pemerintah sudah menargetkan pendirian SPKLU sebanyak 88.045 unit sampai 2025, sementara saat ini baru 57 SPKLU di 35 lokasi. Pembangunan SPKLU ini perlu dipercepat penambahannya," katanya.

Selain itu, tambah Satya, perlu dilakukan optimalisasi perumusan kebijakan dan perencanaan energi (termasuk listrik dan EBT) yang bersifat lintas sektoral, melalui perumusan arah transisi energi dalam jangka panjang secara bertahap.

Sejauh ini sejumlah pabrikan telah berkomitmen memproduksi mobil listrik di Indonesia, seperti Hyundai, Toyota, dan Mitsubishi. Perusahaan otomotif asal Korea Selatan dan Jepang itu menilai kendaraan listrik akan menjadi tren masa depan.

Sementara itu, langkah Indonesia untuk mewujudkan mimpi menjadi salah satu pemain besar dalam industri baterai kendaraan listrik dunia kian nyata. Sedikit demi sedikit persiapan makin matang.

Setelah diumumkannya pembentukan Indonesia Battery Corporation (IBC) atau PT Industri Baterai Indonesia pada Maret lalu, holding baterai tersebut belum lama ini juga telah menandatangani heads of agreement (HoA) dengan konsorsium baterai LG asal Korea Selatan.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Mobil Listrik Sepeda Motor Listrik stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU)

Sumber : Antara

Editor : Muhammad Khadafi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top