Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Banyak Sumbang Gas Rumah Kaca, Para Pelaku Usaha Batu Bara Siapkan Strategi Tekan Emisi

Para pelaku usaha tak menutup mata bahwa sektor industri batu bara menjadi salah satu penyumbang emisi gas rumah kaca yang cukup besar.
Denis Riantiza Meilanova
Denis Riantiza Meilanova - Bisnis.com 05 Mei 2021  |  20:28 WIB
Angkutan batu bara berbasis rel di Sumatra Selatan. - ptba.co.id
Angkutan batu bara berbasis rel di Sumatra Selatan. - ptba.co.id

Bisnis.com, JAKARTA - Industri batu bara banyak mendapat tekanan secara global karena dinilai sebagai industri yang tidak ramah lingkungan.

Ketua Umum Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) Pandu Sjahrir mengatakan bahwa para pelaku usaha tak menutup mata bahwa sektor industri batu bara menjadi salah satu penyumbang emisi gas rumah kaca yang cukup besar.

"Per hari ini, total emisi CO2 Indonesia sekitar 1,26 giga ton karbon. Dari sisi itu, kami juga ketahui sepertiganya dari pembangkit listrik batu bara dan sektor pertambangan," ujar Pandu dalam acara CEO Talks' Webinar: Sustainability Executive Connect, Rabu (5/5/2021).

Oleh karena itu, para pelaku usaha telah menyiapkan sejumlah upaya untuk menekan emisi dalam rangka membantu mewujudkan keinginan pemerintah menuju net zero emission atau netral karbon pada 2050.

Menurutnya, dari sektor pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara saat ini sudah semakin efisien dan ramah lingkungan dengan adanya teknologi ultra supercritical dan terdapat teknologi Carbon Capture, Utilization & Storage (CCUS) yang dapat mengurangi emisi CO2.

Sedangkan dari sektor tambang batu bara, para pelaku usaha telah melakukan penggantian bahan bakar minyak dengan biodiesel (B30) dalam operasional tambangnya, serta menggunakan pembangkit listrik energi baru terbarukan (EBT), seperti PLTS, untuk menggantikan genset di area proyek.

Selain itu, program hilirisasi batu bara juga dinilai akan meningkatkan efisiensi pembakaran.

"Kami juga akan lakukan kajian dengan pihak ketiga untuk melihat kesempatan dari sisi carbon credit dan carbon trading untuk para pelaku usaha di bisnis kami," kata Pandu.

Dia menuturkan bahwa dalam 2-3 tahun ke depan akan ada tranformasi besar dalam industri batu bara untuk menuju net zero carbon emission.

Salah satu perusahaan tambang, PT Bukit Asam Tbk. (PTBA), juga telah melaksanakan upaya serupa untuk menekan emisi pada operasional tambangnya.

Direktur Utama PTBA Suryo Eko Hadianto mengatakan dalam melakukan penghijauan lahan bekas tambang, perseroan juga melakukan studi dengan perguruan tinggi untuk memilih tumbuhan yang paling maksimal dapat menyerap emisi karbon.

Selain itu, perseroan juga berencana mengembangkan PLTS di lahan tambangnya.

"Kami kuasai lahan cukup besar dan itu jadi cost-nya tambang. Itu modal kami untuk bangun PLTS sehingga capex di pembebasan lahan tidak ada lagi, tinggal gelar solar cell di atasnya," kata Suryo.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

batu bara
Editor : Andhika Anggoro Wening

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top