Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Perbankan Global Pasok US$3,8 Triliun ke Energi Fosil Sejak 2015

Dari 60 bank yang masuk analisis, 13 diantaranya berasal dari Amerika Serikat dan Kanada tetapi menyumbang hampir setengah dari pembiayaan bahan bakar fosil global selama lima tahun terakhir, laporan itu menemukan.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 19 April 2021  |  15:21 WIB
Kilang minyak lepas pantai di Skotlandia - Bloomberg/Jason Alden
Kilang minyak lepas pantai di Skotlandia - Bloomberg/Jason Alden

Bisnis.com, JAKARTA - Sebanyak 60 bank terbesar di dunia telah memasok sekitar US$3,8 triliun modal kepada perusahaan bahan bakar fosil sejak Perjanjian Paris ditandatangani pada 2015.

Menurut laporan koalisi LSM bertajuk "Fossil Fuel Finance Report 2021", meskipun pandemi Covid-19 mengurangi penggunaan energi, pendanaan secara keseluruhan tetap dalam tren yang meningkat. Pembiayaan bank yang disediakan pada 2020 lebih tinggi daripada pada 2016 atau 2017.

Laporan itu menemukan, dari 60 bank yang masuk analisis, 13 diantaranya berasal dari Amerika Serikat dan Kanada tetapi menyumbang hampir setengah dari pembiayaan bahan bakar fosil global selama lima tahun terakhir, laporan itu menemukan.

JPMorgan Chase menyediakan lebih banyak pendanaan daripada bank lain. Bank Inggris Barclays menyediakan pembiayaan bahan bakar fosil paling banyak di antara semua bank Eropa dan bank Prancis BNP Paribas adalah yang terbesar di Uni Eropa.

Pembiayaan keseluruhan turun 9 persen pada 2020 yang dilanda pandemi, tetapi pendanaan untuk 100 perusahaan bahan bakar fosil dengan rencana ekspansi terbesar justru naik 10 persen. Citi adalah pemodal terbesar dari 100 perusahaan ini pada 2020.

Alison Kirsch, di Rainforest Action Network dan penulis laporan mengatakan tren selama lima tahun ke belakang masih menunjukkan arah yang salah dan berlawanan dengan tujuan Perjanjian Paris.

Laporan itu juga menunjukkan komitmen yang lemah untuk menjadi bebas karbon pada 2050 yang dibuat oleh 17 dari 60 bank. Beberapa bank memiliki kebijakan yang memblokir pembiayaan untuk batu bara, bahan bakar fosil terkotor, tetapi hampir dua pertiga pendanaannya untuk perusahaan minyak dan gas.

Penulis laporan tersebut mengatakan bahwa penargetan bank oleh juru kampanye dan pemegang saham aktivis dapat membantu mengubah kebijakan bank, tetapi tindakan oleh pemerintah juga diperlukan.

"Tak satu pun dari 60 bank ini yang telah membuat, tanpa celah, rencana untuk keluar dari bahan bakar fosil," katanya, seperti dilansir The Guardian, Senin (19/4/2021).

Selain itu, hasil yang mengejutkan dari data 2020 adalah BNP Paribas, bank yang membanggakan kredensial ramah lingkungannya dan anak perusahaannya di AS, Bank of the West, masuk sebagai pemasok modal fosil terbesar, dengan US$41 miliar yang disediakan sejauh ini.

Seorang juru bicara BNP Paribas mengatakan laporan tersebut telah menempatkan bank tersebut di peringkat kedua untuk kekuatan pembatasannya pada pembiayaan batu bara, fracking dan pasir tar.

"Selama krisis Covid-19, semua sektor ekonomi membutuhkan dukungan dan BNP Paribas, seperti bank lain, memainkan peran penting dalam menstabilkan perekonomian. Namun, BNP Paribas mendukung sektor minyak dan gas lebih rendah daripada sektor kegiatan lainnya," kata juru bicara itu.

Sementara itu, seorang juru bicara Barclays mengatakan pihaknya telah membuat komitmen untuk menyelaraskan seluruh portofolio pembiayaan dengan tujuan Perjanjian Paris, dengan target spesifik dan pelaporan transparan, dalam proses untuk mencapai ambisi menjadi bank nol karbon pada 2050.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pembiayaan perbankan energi fosil
Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top