Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Jaga Harga Bahan Pokok Saat Ramadan & Idulfitri, Simontok Jadi Andalan

Peta Simontok ini mampu memantau kondisi harga dan kebutuhan bahan pokok di daerah terpencil.
Rahmad Fauzan
Rahmad Fauzan - Bisnis.com 14 April 2021  |  00:06 WIB
Kebutuhan pokok di pasar tradisional. - Ilustrasi/Bisnis
Kebutuhan pokok di pasar tradisional. - Ilustrasi/Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Pertanian terus menjaga stabilitas harga bahan pokok dalam menyambut momentum Ramadan dan Idulfitri 2021.

Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementan Agung Hendriadi mengatakan bahwa pemerintah sudah melakukan penjagaan tersebut sejak beberapa bulan sebelumnya melalui pemantauan di setiap daerah defisit dengan menggunakan Sistem Monitoring Stok (Simontok).

"Peta Simontok ini mampu memantau kondisi harga dan kebutuhan bahan pokok di daerah terpencil. Dengan begitu, kami bisa melakukan intervensi dari daerah surplus ke daerah defisit, bahkan Simontok ini bisa menjamin pasokan dan distribusi," ujar Agung melalui siaran pers yang diterima Bisnis, Selasa (13/4/2021).

Dia menambahkan pemantauan sistem intervensi ini dilakukan secara rutin setiap satu kali per pekan. Melalui langkah tersebut, Kementan melalui Badan Ketahanan Pangan mengumpulkan informasi dan laporan dari semua Kepala Dinas Pertanian dan Perdagangan di seluruh Indonesia.

Di sisi lain, kata Agung, Kementan juga sudah melakukan pembinaan terhadap ribuan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) agar menyediakan produk pascapanen. Upaya tersebut bertujuan membiasakan masyarakat dengan makanan olahan sehingga tidak ada makanan sisa yang terbuang percuma.

"Sekarang kan posisinya konsumsi pengolahan produk olahan itu 30 persen, sedangkan sisanya, yakni 70 persen, adalah produk fresh. Saya kira ini terbalik dengan negara maju di Eropa atau Amerika. Dengan demikian, kita kembangkan UMKM agar melakukan pengolahan, sehingga tidak ada makanan yang terbuang," katanya.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman (Gapmmi) Adhi S. Lukman menilai langkah tersebut merupakan langkah tepat dalam menekan angka impor melalui konsumsi makaman yang tidak terbuang secara percuma.

"Oleh sebab itu, petani kita harus belajar proses pascapanennya supaya makanan kita itu bertahan lebih lama. Menurut saya, konsumen juga harus dididik bahwa pola konsumsi yang baik itu adalah dengan tidak membuang makanan. Misalnya, cabai tidak segar itu kan bisa diolah jadi sambal kering," katanya


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Ramadan idulfitri harga bahan pokok
Editor : Zufrizal

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top