Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Bisakah RI Capai Target Netral Karbon pada 2070? Ini Kata ESDM

Indonesia masih membutuhkan diskusi panjang dalam menetapkan target netral karbon, mengingat industri dalam negeri belum tumbuh pesat.
Denis Riantiza Meilanova
Denis Riantiza Meilanova - Bisnis.com 09 April 2021  |  19:45 WIB
Ilustrasi - ilmupengetahuan.org
Ilustrasi - ilmupengetahuan.org

Bisnis.com, JAKARTA— Indonesia diperkirakan dapat mencapai net-zero emission atau netral karbon pada 2070. Hal itu disampaikan oleh Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup Siti Nurbaya Bakar belum lama ini.

Ketika menanggapi hal tersebut, Staf Ahli Menteri Bidang Lingkungan Hidup dan Tata Ruang Kementerian ESDM Saleh Abdurrahman menilai bahwa target tersebut merupakan target yang realistis. Dia pun optimistis target tersebut bisa tercapai asalkan program-program penurunan emisi, seperti pengembangan energi baru terbarukan (EBT) dapat berjalan baik.

Di sisi lain, menurutnya, Indonesia masih membutuhkan diskusi panjang dalam menetapkan target netral karbon, mengingat industri dalam negeri belum tumbuh pesat dan daya beli masyarakat masih rendah untuk mengonsumsi energi bersih yang masih lebih mahal daripada energi fosil.

"Peak emisi karbon di Inggris itu 20—30 tahun lalu, struktur industri mereka sudah berubah sehingga mereka punya fleksibilitas dalam menetapkan kapan mereka akan net zero emission," ujarnya dalam launching Virtual The 10th Indo EBTKE ConEx 2021, Jumat (9/4/2021).

"Kalau Indonesia perlu diskusi agak panjang bagaimana arah industri kita ke depan. Ini penting karena GDP kita per kapita masih 4.000-an. Bandingkan dengan Singapura sudah di atas 65.000, Malaysia 11.000, artinya GDP seperti itu enak ngomongnya ke stakeholder atau konsumen kalau ada kenaikan harga listrik mungkin dengan harga EBT," katanya.

Dengan struktur industri, daya beli masyarakat, kondisi ekonomi, ditambah kondisi pandemi Covid-19, ia memperkirakan bahwa puncak emisi Indonesia tidak akan tercapai sebelum 2030.

"Kita dukung Paris Agreement, tapi kita butuh mempercepat laju ekonomi kita. Sejujurnya kami belum bahas kapan kita akan peaking, tapi saya tidak melihat sebelum 2030 karena masih terlalu awal. Saya lihat mungkin sekitar 2040," kata Saleh.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Indonesia Research Institute for Decarbonization (IRID) Moekti H. Soejachmoen mengatakan, sumber emisi terbesar di Indonesia berasal dari sektor kehutanan dan energi. Penurunan emisi di sektor kehutanan sekarang ini sudah membaik, sehingga tantangan penurunan emisi yang perlu segera dijawab adalah dari sektor energi.

"Yang hutan dengan berbagai kerja sama internasional sekarang sudah membaik dan harapannya di 2030 sudah net sink, artinya antara emisi dan penyerapan yang dilakukan hutan itu sudah banyak penyerapannya. Tapi emisi yang lain terus meningkat, seperti energi kita butuh untuk pembangunan dan energi sektor kedua emisi terbesar, ini yang harus dijawab," katanya.

Untuk mengejar target penurunan emisi di sektor energi, Moekti menilai peran pengembangan EBT menjadi penting. Oleh karena itu, pengembangan EBT perlu segera diakselerasi dan dilakukan secara masif agar pencapaian target netral karbon dapat dipercepat.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

emisi karbon Energi Bersih Terbarukan
Editor : Zufrizal

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top