Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Fed Isyaratkan Tappering Off Masih Jauh

Jawaban dari pertanyaan apakah tappering off akan dimulai sebelum 2022, masih terbuka. Hal ini diisyaratkan Fed.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 18 Februari 2021  |  12:20 WIB
Federal Reserve Board Chairman Jerome Powell. -  REUTERS / Yuri Gripas
Federal Reserve Board Chairman Jerome Powell. - REUTERS / Yuri Gripas

Bisnis.com, JAKARTA - Pejabat Federal Reserve memperkirakan program pembelian obligasi pemerintah atau quantitative easing akan tetap pada kecepatan saat ini untuk beberapa waktu.

Hal itu memundurkan wacana pengurangan bertahap pembelian obligasi, yang dikenal dengan istilah tapering off. Jawaban dari pertanyaan apakah tappering off akan dimulai sebelum 2022, masih terbuka.

"Dengan ekonomi yang masih jauh dari tujuan tersebut, para peserta menilai bahwa kemungkinan akan membutuhkan beberapa waktu untuk mencapai kemajuan substansial lebih lanjut," demikian tertulis dalam risalah pertemuan Fed pada 26 hingga 27 Januari, yang diterbitkan kemarin.

Dilansir Bloomberg, Kamis (18/2/2021), konfirmasi tersebut memperkuat pesan dovish dari Gubernur Fed Jerome Powell, yang mengatakan pekan lalu bahwa Amerika Serikat masih sangat jauh dari pasar tenaga kerja yang kuat yang manfaatnya dibagi secara luas.

Dia mencatat lapangan kerja masih hampir 10 juta pekerjaan di bawah level sebelum pandemi virus corona. Ini menjadi hal yang kemungkinan akan dia bahas minggu depan dalam kesaksian setengah tahunan Powell di depan Kongres.

"Beberapa waktu dalam konteks itu mungkin berarti beberapa kuartal, mengingat ketidakpastian yang masih mereka lihat dan seberapa jauh kondisi masih belum dapat diterima," kata Roberto Perli, mantan ekonom Fed yang sekarang menjadi mitra di Cornerstone Macro di Washington.

Prospek cerah ekonomi AS sejak awal tahun telah menambah spekulasi investor tentang kapan Fed akan mulai mengurangi program pembelian obligasi, yang saat ini berjalan pada kecepatan US$120 miliar, terdiri atas surat utang pemerintah dan sekuritas berbasis pinjaman jangka panjang.

Sementara beberapa presiden Fed regional telah meningkatkan kemungkinan memangkas pembelian obligasi pada akhir 2021 jika ekonomi berkinerja lebih baik dari yang diharapkan, Powell menyebut pembicaraan seperti itu masih terlalu dini. Dia mengutip pelajaran dari taper tantrum 2013, ketika wacana tapering off bank sentral mengguncang pasar dan memukul ekonomi.

Panduan resmi bank sentral menyatakan akan melanjutkan pembelian pada kecepatan itu sampai ekonomi telah membuat kemajuan substansial lebih lanjut menuju lapangan kerja penuh dan target inflasi 2 persen.

Namun imbal hasil Treasury AS telah meningkat di tengah naiknya optimisme bahwa Presiden Joe Biden dan Kongres Demokrat akan mengesahkan lebih banyak langkah-langkah bantuan fiskal dan mempercepat pemulihan ekonomi.

“Para peserta menyatakan bahwa prospek program vaksin yang efektif, dukungan fiskal yang baru-baru ini diberlakukan, dan potensi tindakan fiskal tambahan telah membuat mereka menilai bahwa prospek jangka menengah telah membaik,” lanjut risalah tersebut.

Meski begitu, para peserta sepakat bahwa ekonomi masih jauh dari tujuan jangka panjang Komite dan jalan ke depan tetap sangat tidak pasti, dengan pandemi terus menimbulkan risiko yang cukup besar terhadap prospek.

Data penjualan ritel, produksi industri, dan harga produsen pada Januari semuanya berada di atas perkiraan, menggarisbawahi kontribusi paket bantuan fiskal terhadap pemulihan ekonomi yang ditandatangani menjadi undang-undang pada Desember lalu.

Angka-angka yang lebih baik dari perkiraan juga menyoroti momentum dalam ekonomi pada awal 2021, meskipun ada lonjakan kasus Covid-19 pascaliburan bulan lalu.

Namun, risalah pertemuan Januari Fed menunjukkan bahwa para bankir sentral AS mengharapkan untuk melihat faktor-faktor sementara yang dapat meningkatkan inflasi dalam beberapa bulan mendatang seiring meluasnya vaksinasi dan ekonomi dibuka kembali.

"Banyak peserta menekankan pentingnya membedakan antara perubahan harga relatif yang hanya terjadi satu kali dan perubahan dalam tren yang mendasari inflasi," kata risalah tersebut.

Pergerakan seperti itu dapat meningkatkan inflasi terukur untuk sementara, tetapi tidak mungkin memiliki efek yang bertahan lama.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

quantitative easing federal reserve tapering

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top