Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kecelakaan Pesawat, Direksi Boeing Dituduh Berbohong

Dewan direksi dilaporkan mengabaikan tanda bahaya tentang 737 Max dan tidak mengembangkan alatnya sendiri untuk mengevaluasi keselamatan.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 10 Februari 2021  |  10:22 WIB
Keluarga korban melemparkan karangan bunga saat prosesi tabur bunga di lokasi jatuhnya pesawat Lion Air JT 610, di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat, Selasa (6/11/2018). - Reuters/Beawiharta
Keluarga korban melemparkan karangan bunga saat prosesi tabur bunga di lokasi jatuhnya pesawat Lion Air JT 610, di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat, Selasa (6/11/2018). - Reuters/Beawiharta

Bisnis.com, JAKARTA - Para direktur Boeing Co., termasuk Chief Executive Officer David Calhoun dituduh berbohong tentang pengawasan perusahaan terhadap pesawat jenis 737 Max 8.

Mereka juga dituduh tidak jujur dalam melakukan kampanye hubungan masyarakat.

Hal itu dinilai menjadi penyebab kecelakaan fatal termasuk pada pesawat Lion Air.

Dewan direksi dilaporkan mengabaikan tanda bahaya tentang 737 Max dan tidak mengembangkan alatnya sendiri untuk mengevaluasi keselamatan di samping tidak meminta pertanggungjawaban mantan CEO Dennis Muilenburg.

Muilenburg sebelumnya melancarkan upaya lobi dan kampanye hubungan masyarakat untuk melawan kritik terhadap pesawat tersebut.

Padahal, menurut gugatan di pengadilan yang baru saja dibuka, ada cacat pada desain pesawat.

"Sebelum operasi pesawat 737 Max dihentikan, dewan direksi gagal melakukan evaluasi keselamatan penerbangan," kata para investor dalam gugatan di pengadilan Delaware Chancery Court, 5 Februari lalu seperti diutip Aljazeera.com, Rabu (10/2/2021).

Dalam tuduhan disebutkan dewan direksi kemudian memperparah kurangnya pengawasan dengan berbohong secara terbuka tentang hal itu. Kasus tersebut pertama kali dilaporkan Wall Street Journal.

Ini merupakan bagian dari gugatan derivatif yang pertama kali diajukan pada 2019 oleh pemegang saham Boeing setelah kecelakaan Lion Air dan Ethiopian Air 737 Max. Kedua kecelakaan itu merenggut 346 nyawa.

Tidak seperti dalam gugatan kelompok pemegang saham, penilaian atau penyelesaian gugatan derivatif biasanya dibayarkan kembali kepada perusahaan dari polis asuransi untuk direktur dan pejabatnya.

Sebelumnya, Federal Aviation Administration (FAA), otoritas penerbangan Amerika Serikat, telah mengizinkan pesawat Boeing 737 Max 8 kembali beroperasi.

Pesawat Max 8 di-grounded di seluruh dunia pada Maret 2019 setelah Ethiopian Airlines Flight 302 jatuh menghunjam ke tanah hanya 6 menit setelah take off.

Sebelumnya, pesawat jenis yang sama milik Lion Air, JT-610, jatuh masuk ke laut 11 menit setelah take off dari Bandara Soekarno-Hatta pada November 2018.

Kecelakaan Max 8 Lion Air tidak banyak mengundang kecurigaan tentang kesalahan fatal pada produk pesawat tersebut. Penyebabnya, beberapa tahun sebelumnya Lion Air juga pernah mengalami kecelakaan.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

boeing lion air JT 610 ethiopian airlines

Sumber : Aljazeera.com

Editor : Saeno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top