Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Tiga Pusat Perbelanjaan di DKI Gagal Beroperasi Gara-Gara Pandemi

Di wilayah Jabodetabek, pasokan tambahan yang lebih besar menyebabkan tingkat hunian rata-rata tercatat 73,8 persen pada kuartal IV 2020, turun hampir 5 persen dari periode yang sama tahun lalu.
Yanita Petriella
Yanita Petriella - Bisnis.com 08 Februari 2021  |  19:28 WIB
Mal Kota Kasablanka, salah satu pusat perbelanjaan yang dimiliki PT Pakuwon Jati Tbk. - pakuwonjati.com
Mal Kota Kasablanka, salah satu pusat perbelanjaan yang dimiliki PT Pakuwon Jati Tbk. - pakuwonjati.com

Bisnis.com, JAKARTA — Pandemi Covid-19 yang belum berakhir berdampak pada kondisi sektor ritel yakni pusat perbelanjaan.

Senior Associate Director Research Colliers International Ferry Salanto mengatakan bahwa pada kuartal IV 2020, tidak ada proyek mal baru yang beroperasi di Jakarta.

Karena adanya pandemi, para pengembang properti menunda pengoperasian pusat perbelanjaan baru meskipun pembangunan beberapa mal telah selesai.

Terdapat tiga mal yang telah selesai dibangun yang menambah hampir 95.000 meter persegi ruang ritel di Jakarta sehingga pasokan kumulatif menjadi 4,83 juta meter persegi pada 2020 atau meningkat sekitar 2 persen dari tahun lalu.

Hingga 2024, terdapat tambahan tujuh mal baru dengan tiga mal baru akan selesai pada tahun ini yang akan menambah 113.200 meter persegi. 

"Sehubungan dengan penyelesaian beberapa mal yang dijadwalkan ulang, kami akan melihat pasokan ritel tambahan yang signifikan baik di Jakarta dan area yang lebih besar pada tahun 2021," ujarnya dalam laporan Colliers, Senin (8/2/2021).

Ferry menuturkan bahwa saat ini konsumen tengah membatasi prioritas yang lebih ketat dalam protokol kesehatan dan membatasi pengeluaran.

Hal ini tentu berdampak pada tingkat kunjungan dan daya beli yang lebih rendah sehingga membuat beberapa tenant memilih untuk menutup toko sementara.

Adapun tingkat hunian rata-rata terus melemah pada tahun 2020, turun sekitar 2 persen dari tahun lalu.

Namun, dengan tidak adanya proyek mal yang diselesaikan, tingkat hunian rata-rata di Jakarta tercatat sebesar 77,4 persen di kuartal IV 2020.

Di wilayah Jabodetabek, pasokan tambahan yang lebih besar menyebabkan tingkat hunian rata-rata tercatat 73,8 persen pada kuartal IV 2020, turun hampir 5 persen dari periode yang sama tahun lalu.

Dia memproyeksikan adanya pasokan tambahan mall baru di tahun 2021 akan membuat tingkat hunian kembali turun.

"Fesyen-fesyen mewah tengah persiapan untuk buka di mal yang baru tahun ini," ucapnya.

Terkait harga sewa, rerata berada di level Rp567.999 di Jakarta. Harga sewa ini turun 6,7 persen secara tahunan karena mal yang baru beroperasi pada 2020 mematok harga yang lebih rendah dari harga rata-rata. Harga sewa di mal Jabodetabek tercatat sebesar Rp396.586.

"Saat ini fokus pemilik mal mempertahankan tingkat hunian," tuturnya.

Dengan volume penjualan yang melambat karena tingkat kunjungan mal yang terbatas, pemilik mal diharapkan untuk terus memberikan keringanan sewa guna upaya bersama untuk bertahan hidup.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

mal pusat perbelanjaan
Editor : Zufrizal

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top