Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Industri Rantai Dingin Bisa Tumbuh 16 Persen, Ini Alasannya

Iindustri rantai dingin dinilai masih potensial dengan proyeksi pertumbuhan di kisaran 12–16 persen.
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 02 Februari 2021  |  18:32 WIB
Industri Rantai Dingin Bisa Tumbuh 16 Persen, Ini Alasannya
Ilustrasi: Cold storage - pwcold.com
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Supply Chain Indonesia (SCI) memperkirakan pertumbuhan industri rantai dingin di kisaran 12–16 persen sejalan dengan upaya industri untuk meningkatkan kualitas produks segar.

Chairman Supply Chain Indonesia (SCI) Setijadi menyatakan industri rantai dingin (cold chain) tumbuh pesat dalam beberapa tahun terakhir. Pertumbuhan industri rantai dingin di Indonesia diperkirakan sebesar 12–16 persen yang terjadi terutama karena upaya industri mengurangi tingkat kerusakan komoditas maupun tuntutan jaminan mutu produk.

Dia menjabarkan berdasarkan data organisasi pangan dan pertanian dunia atau FAO atau menyebutkan food losses and waste secara global sebesar 20 persen pada komoditas daging, 45 persen pada buah dan sayuran, serta 35 persen pada ikan dan seafood.

“Kami pun memperkirakan food losses & waste untuk buah dan sayuran di Indonesia pada tahapan pasca panen sekitar 10 persen dan distribusi sekitar 7,5 persen. Kerusakan sebesar itu mengurangi margin para pelaku usaha. Hal itu juga merugikan konsumen karena penurunan mutu dan kenaikan harga komoditas,” ujarnya melalui siaran pers, Selasa (2/2/2021).

Penerapan rantai dingin sangat penting karena food losses and waste terjadi pada semua tahapan, baik produksi, pasca panen, pengolahan, distribusi, dan konsumsi. Secara keseluruhan food losses and waste mencapai 50 persen yang sebagian besar terjadi pada tahap produksi dan pengolahan.

Setijadi menjelaskan peluang industri rantai dingin di Indonesia bisa dilihat antara lain dari data perbandingan antara ketersediaan cold storage dan jumlah penduduk. Di Indonesia, kapasitas cold storage sebesar 0,05 m3 per penduduk, sementara di India sebesar 0,10 m3 dan Amerika Serikat sebesar 0,36 m3 per penduduk.

Menurutnya, kebutuhan penguasaan rantai dingin juga terjadi dalam pendistribusian vaksin Covid-19 di Indonesia. Penanganan dan pendistribusian 600 juta dosis vaksin itu menjadi peluang dan tantangan bagi penyedia jasa logistik dan distribusi farmasi.

Selain itu, lanjutnya, kemampuan pengelolaan rantai dingin juga harus dimiliki perusahaan jasa logistik, pergudangan, dan transportasi semua moda. Perusahaan pengelola infrastruktur dan fasilitas logistik juga harus menguasainya, misalnya untuk penanganan reefer container di pelabuhan dan bandara.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

logistik
Editor : Rio Sandy Pradana
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top