Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Jelang Pertemuan OPEC+, Pilihan Sulit Soal Pemangkasan Produksi Membayangi

Pemangkasan produksi minyak 1 juta barel per hari oleh Menteri Energi Arab Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman bulan lalu, telah menopang pasar global melawan serangan terbaru dari pandemi.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 02 Februari 2021  |  10:28 WIB
Markas OPEC di Wina, Austria - Reuters/Leonhard Foeger
Markas OPEC di Wina, Austria - Reuters/Leonhard Foeger

Bisnis.com, JAKARTA - Negara-negara produsen minyak yang tergabung dalam OPEC+ dapat merayakan keberhasilan mereka dalam menyelamatkan pasar minyak dunia saat mereka berkumpul minggu ini. Namun kelompok ini akan segera dihadapkan pada beberapa pilihan sulit.

Pemangkasan produksi minyak 1 juta barel per hari oleh Menteri Energi Arab Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman bulan lalu, telah menopang pasar global melawan serangan terbaru dari pandemi. Harga minyak rebound menjadi US$55 per barel dan menopang pendapatan produsen tanpa menyebabkan lonjakan yang berlebihan.

Sementara itu, mereka harus mulai mempertimbangkan berapa lama untuk menekan produksi, perhitungan yang dikaburkan oleh potensi kembalinya pasokan dari sesama anggota Iran.

Inti dari dilema itu adalah ketegangan mendasar antara Saudi dan mitra paling kritis mereka dalam aliansi tersebut, Rusia. Sementara Riyadh telah mencari harga yang lebih tinggi untuk menutupi pengeluaran pemerintah, Moskow berniat merebut kembali pangsa pasar.

"Doktrin Pangeran Abdulaziz bin Salman bahwa Anda melakukan kesalahan dengan hati-hati telah terbukti benar," kata Helima Croft, kepala strategi komoditas di RBC Capital Markets LLC. dilansir Bloomberg, Selasa (2/2/2021).

OPEC dan mitranya telah memutuskan tahun ini untuk memulihkan sebagian dari 7,2 juta barel produksi harian, kira-kira 7 persen dari pasokan global.

Pembatasan tersebut terbukti efektif, membalikkan pasar minyak yang pada April menyentuh harga di bawah nol secara singkat. Namun, memulihkan produksi yang terhenti ternyata merupakan proses yang rumit.

Meskipun OPEC+ dijadwalkan untuk mengembalikan total produksi 2 juta barel per hari tahun ini, mereka menyetujui jeda dua bulan setelah pemangkasan awal 500.000 barel pertama pada Januari karena infeksi virus baru mengancam permintaan bahan bakar. Riyadh melipatgandakan pembatasan dengan mengumumkan pengurangan tambahan 1 juta barel.

Pada Rabu pekan ini, Komite Pengawasan Kementerian Bersama (JMCC) OPEC+ akan bersidang secara online untuk menilai prospek ke depan. JMMC kemungkinan tidak akan merekomendasikan kebijakan baru, yang sebaliknya akan ditangani pada pertemuan tingkat menteri berikutnya pada awal Maret.

"Pemotongan Saudi telah memberikan OPEC+ beberapa waktu," kata Direktur Enverus dan pengamat veteran kartel Bill Farren-Price.

Pertanyaan tentang apa yang harus dilakukan selanjutnya akan membayangi diskusi mereka esok hari.

Preferensi Pangeran Abdulaziz untuk menjaga pembatasan produksi telah divalidasi oleh peluncuran vaksin yang tidak merata dan penguncian baru di negara konsumen utama seperti China. Eksportir minyak besar setuju pasar tidak akan pulih sampai perjalanan udara meningkat, sekitar kuartal ketiga.

Di sisi lain, Rusia khawatir bahwa menopang harga terlalu lama akan menjadi bumerang, memprovokasi investasi dalam minyak serpih AS dan membanjirnya pasokan baru yang akan meniadakan kerja keras OPEC+. Pada pertemuan bulan lalu, Wakil Perdana Menteri Alexander Novak mengusulkan peningkatan produksi dan mencoba menghalangi Pangeran dari pemotongan sepihaknya.

"Ini akan menjadi pertarungan sengit pada pertemuan OPEC+ Maret. Rusia akan menganggapnya sebagai kegagalan besar jika pemotongan OPEC+ mulai merangsang pertumbuhan minyak serpih AS lagi, sementara pada saat yang sama mereka memiliki banyak kapasitas cadangan," kata Helge Andre Martinsen, analis pasar minyak senior di DNB Bank ASA.

Rusia bukan satu-satunya anggota yang mungkin mendorong pelonggaran pembatasan. Irak yang berada dalam cengkeraman krisis ekonomi dan sangat membutuhkan pendapatan juga berada di sisi yang sama dengan Rusia,

Sedangkan Uni Emirat Arab sedang berusaha untuk mempromosikan kontrak minyak acuan yang bergantung pada produksi yang berlimpah, dan tahun lalu secara singkat memutuskan hubungan dengan Riyadh untuk membuka keran.

Lalu ada komplikasi dari Iran. Presiden Joe Biden berusaha untuk mengaktifkan kembali perjanjian nuklir yang akan mencabut sanksi AS terhadap Iran, yang memungkinkan pengembalian hampir 2 juta barel produksi harian. Dengan berakhirnya kampanye tekanan maksimum yang dilakukan oleh mantan Presiden Donald Trump, ekspor Iran telah merangkak lebih tinggi.

"Kenaikan ekspor Iran adalah tantangan lain yang muncul untuk OPEC+. Itu salah satu yang mungkin perlu mereka pertimbangkan dalam rencana mereka yang lebih cepat," kata Farren-Price.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak opec

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top