Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

AS Pulih ke Tingkat Prapandemi di Paruh Pertama 2021

AS tampaknya akan bangkit kembali paling cepat di antara negara-negara maju, dibantu oleh salah satu pemasukan fiskal terbesar dalam sejarah dunia.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 27 Januari 2021  |  09:33 WIB
Gedung Capitol Amerika Serikat di Washington DC. - Istimewa
Gedung Capitol Amerika Serikat di Washington DC. - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Ekonomi Amerika Serikat akan mencapai titik prapandemi pada paruh pertama tahun ini, mengikuti China yang telah lebih dulu pulih.

Namun, pemulihan ekonomi dunia tidak merata, dengan negara-negara seperti Afrika Selatan dan Italia harus menunggu setidaknya hingga 2023.

Menurut perkiraan terbaru Dana Moneter Internasional (IMF) itulah tenggat sejumlah ekonomi besar dunia akan kembali ke titik sebelum pandemi pada akhir 2019. Angka-angka tersebut mengungkapkan pemulihan global yang tidak merata setelah resesi terburuk sejak Perang Dunia II.

Pandemi telah menewaskan lebih dari 2,1 juta orang, menutup bisnis dan membekukan perjalanan. Bencana itu juga diperkirakan akan memperlebar ketidaksetaraan antar negara dan dan dapat mendorong sebanyak 150 juta orang ke dalam kemiskinan ekstrem, menurut Bank Dunia.

China, ekonomi besar pertama yang terkena Covid-19, juga merupakan yang paling dulu keluar dari keterpurukan. Sekitar akhir Juni tahun lalu, menurut data resmi, produk domestik bruto China melonjak kembali melewati tingkat prapandemi.

Pada akhir 2022, menurut IMF, ekonomi China akan lebih dari 15 persen lebih besar. Beberapa ekonom memperkirakan China akan melampaui AS pada dekade ini sebagai ekonomi teratas dunia.

AS tampaknya akan bangkit kembali paling cepat di antara negara-negara maju, dibantu oleh salah satu pemasukan fiskal terbesar dalam sejarah dunia.

PDB tahunan akan melewati angka akhir 2019 sekitar pertengahan tahun ini. Sementara itu, Jepang adalah negara kaya lainnya yang pulih dengan cukup baik.

Peluncuran berbagai vaksin telah meningkatkan harapan pemulihan, dan mendorong IMF untuk menaikkan perkiraan PDB dunia tahun ini menjadi 5,4 persen. Namun, bahkan di bawah skenario itu, ekonomi secara umum masih akan lebih kecil dari perkiraan IMF dalam prakiraan sebelum Covid-19, yang diterbitkan setahun lalu.

Di beberapa negara-negara maju seperti Spanyol dan Inggris, dan negara berkembang seperti Meksiko, PDB pada akhir 2022 kemungkinan masih akan lebih kecil dibandingkan tingkat sebelum pandemi.

Berdasarkan perkiraan tingkat pertumbuhan untuk kuartal terakhir tahun 2022, beberapa negara, terutama Italia dan Afrika Selatan, mungkin masih akan berjuang untuk mendapatkan kembali tingkat pertumbuhan sebelum pandemi bahkan pada 2023.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china amerika serikat imf
Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top