Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pakar Keamanan Siber: Bisnis Grab Toko Tak Lazim

Bisnis Grab Toko dinilai tak lazim dan masyarakat diimbau untuk tidak mudah tergiur dengan harga murah agar tidak terjerumus dalam tindak scam atau penipuan.
Akbar Evandio
Akbar Evandio - Bisnis.com 07 Januari 2021  |  19:53 WIB
Iklan Grab Toko.  - Dok. Youtube
Iklan Grab Toko. - Dok. Youtube

Bisnis.com, JAKARTA - Grab Toko, situs lokapasar (matketplace) produk gawai yang kini sedang menjadi perbincangan karena diduga melakukan penipuan terhadap konsumennya, dinilai menjalankan bisnis yang tidak lazim.

Pengamat keamanan siber dari Vaksincom Alfons Tanujaya menilai bisnis yang dijalankan Grab Toko yang menjual harga ponsel di bawah harga pasar memang terkesan ganjil.

“Dari praktek bisnisnya tidak lazim karena harga produk di jual di bawah modal. Masyarakat perlu berhati-hati jangan mudah tergiur barang murah karena umumnya merupakan scam atau penipuan,” katanya kepada Bisnis.com, Kamis (7/1/2021).

Dia berharap agar pemerintah, khususnya kepolisian perlu menyelidiki dan melakukan tindakan tegas, apabila memang benar indikasi yang dialami lokapasar tersebut adalah penipuan.

Alfons berpendapat Grab Toko telah menjual ponsel di bawah harga modal distributor. Hal tersebut dianggap sebagai praktek bisnis yang tidak sehat dan logikanya mengarah ke penipuan.

"Masa orang ada yang mau jual rugi,” ujarnya.

Sebelumnya, Managing Director PT Grab Toko Indonesia Yudha Manggala Putra mengaku bahwa perusahaan mengalami kasus penipuan oleh investor yang melakukan penggelapan dana. Saat ini, perkara tersebut diklaim telah dilaporkan ke Mabes Polri kendati hingga saat ini belum ada nomor laporannya.

“Kami akan mengembalikan uang konsumen secepatnya setelah melalui proses kepolisian. Sekali lagi saya minta maaf atas kerugian yang ditimbulkan," tulis Yudha dalam media sosialnya yang dikutip, Rabu (6/1/2021).

Dia memohon maaf atas keterlambatan respons dari pihak Grab Toko terkait dengan pesanan konsumen. Perusahaan juga sudah berusaha menyita aset-aset investor yang ada dan membekukan semua rekening mereka, agar terhindar kerugian lebih besar lagi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

penipuan e-commerce
Editor : Rio Sandy Pradana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top