Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Bisnis Heli Medis Bakal Booming, Ini Alasannya

Bisnis heli medis berpotensi untuk menjadi booming kendati saat ini yang memanfaatkan layanan ini hanya berasal dari perusahaan tambang.
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 06 Januari 2021  |  20:37 WIB
Ilustrasi helikopter memberikan bantuan berupaya layanan gratis untuk tenaga medis guna menangani virus corona (Covid/19).
Ilustrasi helikopter memberikan bantuan berupaya layanan gratis untuk tenaga medis guna menangani virus corona (Covid/19).

Bisnis.com, JAKARTA – Bisnis heli medis berpotensi menjadi booming pada tahun-tahun mendatang sejalan dengan meningkatnya pemahaman dan kebutuhan masyarakan akan adanya layanan tersebut.

Pengamat penerbangan dari Jaringan Penerbangan Indonesia Gerry Soedjatman mengatakan selama ini pasar dari sektor penerbangan niaga tak berjadwal seperti helikopter di Indonesia masih bersifat terbatas dan tradisional. Sektor–sektor yang memanfaatkan layanan ini hanya berasal dari perusahaan tambang.

Oleh karena itu, lanjutnya, pasar untuk heli medis masih akan berkembang mengingat trennya di Asia juga baru terbentuk lima tahun belakangan ini. Terlebih saat ini pelaku bisnis helikopter juga semakin kompetitif dan agresif memperluas pasar. Membandingkan dengan pasar di Amerika Serikat yang sudah berkembang lebih dulu, masyarakatnya bahkan memanfaatkannya untuk perjalanan sehari-hari hingga kepentingan tur.

“Biasanya masyarakat Indonesia ini masih anti dengan penerbangan tak berjadwal. Banyak yang belum teredukasi dan terbiasa dengan helikopter. Jadi layanan ini baru awal-awanya. Pasti ke depannya akan punya potensi booming karena ada ekspansi dari para pelaku. Tinggal selanjutnya apakah regulasinya bisa menyesuaikan,” ujarnya, Rabu (6/1/2021).

Saat ini, Gerry menyebutkan kendala regulasi masih berasal dari terbatasnya operasi layanan tersebut hanya pada siang hari. Alhasil bagi penumpang dengan kondisi darurat yang membutuhkan penanganan pada malam hari juga masih terkendala.

Pada masa pandemi ini, dia menyebutkan bisnis charter pada umumnya masih lebih bertahan hidup ketimbang penerbangan niaga berjadwal. Permintaan akan tumbuh karena tidak adanya pembatasan okupansi penumpang dan tidak bercampur dengan orang yang tak dikenal.

Selain itu, imbuhnya, helikopter memiliki fleksibilitas karena tidak membutuhkan bandara untuk mendarat melainkan hanya helipad. Bahkan untuk pendaratan sekali bisa hanya dengan memanfaatkan lapangan bola. Walaupun kekurangannya memang banyak helipad yang saat ini belum disertifikasi secara rutin.

Di sisi lain sisi tarifnya memang masih lebih mahal ketimbang sewa pesawat niaga berjadwal. Dia menggambarkan untuk tiga orang penumpang tarif sewa helikopter bisa mencapai 10 juta per jam.

“Jadi persoalanya memang masih di seputar diversifikasi penggunaanya, kemudian bagaimana membuat orang melek helikopter. Namun sejauh ini operator helikopter sudah gencar nggak jual mahal lagi. makin banyak pelaku muncul tarif kompetitif juga,” tekannya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Helikopter
Editor : Rio Sandy Pradana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top