Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Jelang Akhir 2020, Kamboja Produksi Minyak Perdana

Pemerintah Kamboja berharap proyek ini akan menghasilkan pendapatan sekitar US$500 juta pada tahap pertama proyek, dengan tingkat produksi awal 7.500 barel per hari.
Zufrizal
Zufrizal - Bisnis.com 03 Januari 2021  |  12:33 WIB
Ilustrasi: Sungai Mekong di kawasan Kamboja - Reuters/Chor Sokunthea
Ilustrasi: Sungai Mekong di kawasan Kamboja - Reuters/Chor Sokunthea

 

Bisnis.com, JAKARTA — Karena permintaan minyak Asia diperkirakan meningkat selama dekade berikutnya, Kamboja memanfaatkan peluang tersebut dengan memproduksi minyak mentah untuk pertama kalinya pada Senin (28/12/2020).

Rencananya Kamboja mengekstraksi minyak dari ladang minyak Teluk Thailand dalam proyek bersama dengan KrisEnergy Ltd asal Singapura. Rencana tersebut sebelumnya telah mengalami penundaan selama beberapa tahun.

Perkembangan tersebut diumumkan oleh Perdana Menteri Hun Sen di media sosial.

“Tahun 2021 akan datang dan kami telah menerima hadiah besar untuk bangsa kami—produksi minyak pertama di wilayah kami,” ujarnya seperti dikutip dari oilprice.com, Sabtu (2/1/2021).

Selanjutnya, Hunsen menambahkan, “Manfaat utama termasuk pendapatan anggaran nasional, manfaat ekonomi dari diversifikasi industri minyak dan peningkatan kapasitas nasional di sektor ini.”

Kerja sama dengan KrisEnergy awalnya diusulkan pada 2017 ketika perusahaan migas itu dan Pemerintah Kamboja menandatangani pakta untuk mengembangkan 3.083 kilometer persegi cekungan Khmer di Teluk Thailand, juga dikenal sebagai Blok A.

Pemerintah Kamboja berharap proyek ini akan menghasilkan pendapatan sekitar US$500 juta pada tahap pertama proyek, dengan tingkat produksi awal 7.500 barel per hari.

KrisEnergy telah memiliki beberapa proyek eksplorasi, penilaian, pengembangan dan produksi yang sedang berlangsung di seluruh Asia, di Bangladesh, China, Thailand, Vietnam dan Indonesia.

Perusahaan berharap dapat meningkatkan portofolio Asia dengan 95 persen saham di Blok A, setelah membeli saham Chevron di zona tersebut seharga US$65 juta pada 2014.

Minyak pertama kali ditemukan di wilayah tersebut pada tahun 2004 oleh raksasa energi AS Chevron. Terlepas dari penemuan awal ini, Chevron tidak dapat mencapai kesepakatan dengan Pemerintah Kamboja untuk mengembangkan kemampuan minyaknya. Selain itu, dikarenakan penurunan harga minyak pada 2014, hanya sedikit perusahaan yang mau berinvestasi di wilayah minyak yang belum mapan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kamboja migas
Editor : Zufrizal
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top