Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Jelang Transisi Brexit Usai, Warga Inggris Diimbau Tak Timbun Barang

Tanpa kesepakatan, publik Inggris akan menghadapi beban senilai lebih dari 3 miliar poundsterling tarif makanan. Peritel tidak akan punya pilihan selain membebankan sebagian dari biaya tambahan ini kepada pelanggan.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 14 Desember 2020  |  14:56 WIB
Pengunjuk rasa anti Brexit melambaikan bendera Uni Eropa di luar Gedung Parlemen Inggris di London, Inggris, Selasa (13/11). - Reuters/Toby Melville
Pengunjuk rasa anti Brexit melambaikan bendera Uni Eropa di luar Gedung Parlemen Inggris di London, Inggris, Selasa (13/11). - Reuters/Toby Melville

Bisnis.com, JAKARTA - Warga dan rumah tangga di Inggris diimbau untuk tidak melakukan penimbunan barang-barang jelang usainya masa transisi Brexit.

Setelah perundingan berbulan-bulan, muncul kekhawatiran kesepakatan tak akan tercapai di detik-detik terakhir masa transisi.

Kepala Eksekutif British Retail Consortium (BRC) Helen Dickinson menjelaskan, tanpa kesepakatan, publik Inggris akan menghadapi beban senilai lebih dari 3 miliar poundsterling tarif makanan. Peritel tidak akan punya pilihan selain membebankan sebagian dari biaya tambahan ini kepada pelanggan.

Ketidakpastian yang sedang berlangsung membuat lebih sulit bagi perusahaan untuk mempersiapkan Tahun Baru. Namun toko-toko mengatakan memiliki banyak persediaan dan pembeli tidak boleh membeli makanan lebih banyak dari biasanya.

"Pengecer melakukan segala yang mereka bisa untuk mempersiapkan semua kemungkinan pada 1 Januari - meningkatkan stok kaleng, tisu toilet dan produk lain yang lebih tahan lama sehingga akan ada pasokan produk penting yang cukup," kata Kepala Eksekutif BRC Helen Dickinson, dilansir BBC, Senin (14/12/2020).

Dia melanjutkan, meskipun tidak ada jumlah pasti berapa banyak yang dipersiapkan peritel, masyarakat tidak disarankan untuk membeli makanan dan barang-barang penting secara berlebihan.

Selama penguncian pertama awal tahun ini, untuk menghentikan penyebaran virus corona, pedagang grosir memberlakukan batasan pada barang-barang seperti tisu toilet, pasta kering, dan susu UHT setelah pembelian panik oleh warga Inggris.

Ada kekhawatiran pembeli mungkin berpikir gangguan di pelabuhan setelah 31 Desember dapat menyebabkan kekurangan di toko-toko karena Inggris beralih ke aturan perdagangan baru dengan UE.

Dalam pernyataan bersama, Perdana Menteri Boris Johnson dan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengatakan akan bekerja ekstra untuk mencapai kata sepakat. Namun Johnson mengatakan bahwa kedua belah pihak masih sangat berbeda pendapat dalam beberapa hal utama.

Kelompok bisnis lain menyambut baik perpanjangan pembicaraan perdagangan tetapi juga memperingatkan bahwa sangat penting bagi Inggris untuk menghindari Brexit tanpa kesepakatan dengan UE.

Tony Danker, Direktur Jenderal Grup Lobi Bisnis Confederation of British Industry (CBI) mengatakan kesepakatan itu penting dan mungkin. Penundaan yang sedang berlangsung membuat frustrasi dan merugikan bisnis

"Pemerintah harus bergerak dengan lebih banyak tekad untuk menghindari tepi tebing yang menjulang pada 1 Januari," katanya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perdagangan inggris Brexit
Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top