Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

63 Tahun Pertamina, Peningkatan Lifting Masih Menjadi Catatan

Peningkatan impor BBM disebabkan Pertamina tidak mampu membangun kilang minyak selama 20 tahun terakhir
Muhammad Ridwan
Muhammad Ridwan - Bisnis.com 10 Desember 2020  |  19:38 WIB
Karyawan Pertamina melakukan pengecekan fasilitas kilang minyak. Istimewa -  Pertamina
Karyawan Pertamina melakukan pengecekan fasilitas kilang minyak. Istimewa - Pertamina

Bisnis.com, JAKARTA — PT Pertamina sedang merayakan hari jadinya yang ke-63 pada hari ini (10/12/2020). Setelah lebih dari 6 dekade beroperasi, peningkatan lifting masih menjadi catatan untuk perusahaan migas milik negara itu.

Direktur Executive Energi Watch Mamit Setiawan mengatakan bahwa dalam menjalankan kegiatan bisnisnya di sektor hulu, perlu adanya inovasi dan efisiensi. Pasalnya, Pertamina bakal menjadi tumpuan untuk target peningkatan produksi siap jual atau lifting minyak 1 juta barel pada 2030.

Di samping itu, Mamit menilai Pertamina perlu lebih banyak melakukan investasi di luar negeri dengan mengakuisisi blok-blok migas yang memang berprospek dan menguntungkan.

"Hal itu perlu dilakukan mengingat lapangan kita sudah decline," katanya kepada Bisnis, Kamis (10/12/2020).

Sementara itu, Mamit menjelaskan bahwa di sektor hilir dan midstream efisiensi dalam distribusi dan pengolahan menjadi hal utama dalam pelaksanaan industri hilir migas. Selain itu sektor hilir membutuhkan ekspansi yang lebih luas dengan mencoba menggarap pasar di luar negeri.

Dia menambahkan bahwa efisiensi dalam pengolahan dengan program refinery development master plan dengan kilang yang akan terintegrasi dengan petrokimia merupakan langkah yang harus dilakukan mengingat akan terjadinya shifting energi.

"Pertamina harus meningkatkan pelayanan masyarakat maupun kepada partner pendukung kegiatan usaha dan bisnis pertamina. Di tengah mulai berkembangnya EV [electric vehicle], maka pertamina harus bisa bertranformasi bukan lagi menjadi industri migas, tapi menjadi industri energi yang mampu beradaptasi dengan kebutuhan dan perkembangan zaman," jelasnya.

Pengamat ekonomi energi Universitas Gadjah Mada Fahmy Radhi berpendapat bahwa selama 63 tahun, Pertamina sudah berperan dalam mencapai ketersediaan dan ketahanan energi. Kontribusi itu termasuk di sektor hulu, midterm, dan hilir.

Namun, capaian itu dinilai belum optimal, bahkan cenderung turun. Lifting migas dalam 5 tahun terakhir selalu menurun. Di sisi lain impor BBM selalu meningkat sehingga membebani defist neraca migas.

Peningkatan impor BBM itu disebabkan Pertamina tidak mampu membangun kilang minyak selama 20 tahun terakhir

"Pertamina harus menaikan lifting dengan masuk ke sumur baru dan menggunakan teknologi di existing sumur. Selain itu, pembangunan kilang harus segera diselesaikan dan pengembangan EBT [energi baru terbarukan]," kata Fahmy.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pertamina kilang minyak
Editor : Zufrizal
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top