Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pandemi Dorong Permintaan, Top Glove Catat Rekor Laba Bersih

Laba bersih produsen sarung tangan terbesar di dunia ini melonjak menjadi 2,38 miliar ringgit (US$584 juta) dalam tiga bulan yang berakhir November,
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 09 Desember 2020  |  15:49 WIB
Aktivitas produksi sarungan tangan di pabrik  Top Glove Corp, Setia Alam, Malaysia. Fotografer: Samsul Said  -  Bloomberg
Aktivitas produksi sarungan tangan di pabrik Top Glove Corp, Setia Alam, Malaysia. Fotografer: Samsul Said - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Produsen sarung tangan karet terbesar di dunia, Top Glove Corp., membukukan rekor laba kuartalan karena pandemi virus corona terus mendorong permintaan akan peralatan medis.

Dilansir dari Bloomberg, laba bersih Top Glovel melonjak menjadi 2,38 miliar ringgit (US$584 juta) dalam tiga bulan yang berakhir November, dari 111,4 juta ringgit pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Lonjakan ini ditopang oleh pendapatan yang meroket hampir empat kali lipat menjadi 4,76 miliar ringgit, menurut keterbukaan informasi kepada bursa Malaysia pada hari Rabu (9/12/2020).

Top Glove dan produsen sarung tangan karet lainnya telah menjadi salah satu saham terpanas tahun 2020, dengan saham-saham mereka naik ke rekor tertinggi saat mengalami lonjakan permintaan alat pelindung diri (APD) yang luar biasa di tengah pandemi.

Peluncuran vaksin Covid-19 tahun depan tidak akan mengurangi permintaan sarung tangan medis karena orang yang melakukan imunisasi tetap akan membutuhkan perlindungan. Perusahaan kini mengalokasikan 10 miliar ringgit untuk meningkatkan kapasitas hingga 100 miliar potong selama lima tahun ke depan.

Top Glove juga mengalokasikan 100 juta ringgit untuk perumahan pekerja menyusul penyebaran infeksi di pabriknya bulan lalu yang mendorong pemerintah untuk menutup 28 pabrik perusahaan.

Wabah tersebut membatasi kenaikan Top Glove tahun ini, dengan saham jatuh 17 persen pada November, penurunan bulanan terbesar sejak Januari 2016, karena perusahaan mengatakan beberapa pengiriman terhambat hingga empat minggu.

“Dalam jangka pendek, investor perlu memperhatikan dampak penutupan pabrik dan potensi denda atau hukuman bagi kondisi kesehatan pekerjanya terhadap pendapatan perusahaan,” kata direktur investasi Fortress Capital Asset Management Sdn. Chua Zhu Lian, seperti dikutip Bloomberg.\

 “Secara keseluruhan, Top Glove harus terus mendapatkan keuntungan dari harga jual rata-rata yang lebih tinggi,” lanjutnya.

Perusahaan mengusulkan pembagian dividen interim sebesar 16,5 sen per saham, menurut keterbukaan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

industri karet sarung tangan
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top