Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Nestle Mulai Transisi Energi di 800 Pabriknya

Nestle menargetkan penyelesaikan transisi 800 situsnya di 187 negara di mana ia beroperasi ke 100% listrik terbarukan dalam 5 tahun ke depan. Di Indonesia, Nestle berencana ekspansi usaha dengan investasi 100 juta dolar AS di tengah pandemi Covid-19.
Fatkhul Maskur
Fatkhul Maskur - Bisnis.com 04 Desember 2020  |  07:31 WIB
Kantor Pusat Netsle di Vevey, Swiss.  - Nestle
Kantor Pusat Netsle di Vevey, Swiss. - Nestle

Bisnis.com, JAKARTA - Nestle menargetkan penyelesaikan transisi 800 situsnya di 187 negara di mana ia beroperasi ke 100% listrik terbarukan dalam 5 tahun ke depan. Di Indonesia, Nestle berencana ekspansi usaha dengan investasi 100 juta dolar AS di tengah pandemi Covid-19.

Transisi operasi ini merupakan satu dari tiga area fokus peta jalan Nestle untuk melawan perubahan iklim dan mengurangi jejak lingkungan. Dua area fokus lainnya adalah dukungan terhadap pertanian regeneratif, dan pengembangan produk ramah lingkungan.

"Dewan mengakui pentingnya strategi mengambil langkah-langkah tegas untuk mengatasi perubahan iklim. Ini mendukung percepatan dan peningkatan kerja kami untuk memastikan keberhasilan jangka panjang perusahaan dan berkontribusi pada masa depan yang berkelanjutan untuk generasi mendatang," kata Chairman Nestle Paul Bulcke dalam keterangan pers, Kamis (3/12/2020).

Nestle, yang merupakan perusahaan makanan dan minuman terbesar dunia, mengklaim telah mencatatkan jejak signifikan, dan menyumbang sekitar 7% dari emisi dalam lingkup pada 2018. Berdasarkan rekam jejak itu, Nestle membuat perubahan mendasar untuk mengurangi hal ini lebih jauh melalui penggunaan energi terbarukan untuk produksi.

Pemotongan emisi dimulai dengan efisiensi energi dan berlanjut dengan pergerakan menuju proses yang tidak menggunakan banyak energi. Pada saat yang sama, Nestle berkomitmen meningkatkan penggunaan listrik terbarukan hingga mencapai 100% pada 2025.

Pada 2018, 34,5% listrik Netsle berasal dari sumber terbarukan. Saat meningkatkan penggunaan listrik dari sumber terbarukan, Nestle juga meningkatkan permintaan pasar, memberi insentif kepada penyedia untuk berinvestasi dalam infrastruktur baru, seperti pembangkit listrik tenaga angin dan surya.

Dalam proses transisi energi, Nestle menyebutkan tiga langkah utama.

Pertama, memberi daya pada produksi secara terbarukan. Nestle akan meningkatkan proporsi listrik terbarukan yang digunakan melalui perjanjian pembelian listrik, tarif ramah lingkungan, sertifikat energi terbarukan dan produksi di tempat untuk mencapai 100% listrik terbarukan pada 2025.

Bersamaan dengan bentuk-bentuk listrik terbarukan yang sudah mapan, seperti angin dan matahari, Nestle juga akan bekerja dengan pemasok untuk meningkatkan ketersediaan energi panas terbarukan yang dihasilkan dari sumber-sumber, seperti biogas dan biomassa, pada 2030.

Kedua, meningkatkan efisiensi untuk menurunkan emisi.

Pengurangan emisi lebih lanjut akan dilakukan dengan meningkatkan efisiensi operasi. Banyak proyek efisiensi energi telah direncanakan untuk lokasi di seluruh dunia, mulai dari sistem pencahayaan LED hingga mengoptimalkan konsumsi energi selama waktu non-produksi dan memulihkan energi panas.

Ketiga, akan menghapus refrigeran dengan potensi pemanasan global yang tinggi.

Nestle akan terus menghapus refrigeran dengan potensi pemanasan global yang tinggi (GWP), seperti hidrofluorokarbon, dalam sistem pendingin industri. Kami akan menggantinya dengan refrigeran baru yang alami dengan GWP nol atau rendah, seperti amonia, CO2, dan hidrokarbon.

Selain itu, Nestle juga akan mengalihkan armada kendaraan globalnya ke opsi emisi yang lebih rendah dan akan mengurangi dan mengimbangi perjalanan bisnis pada 2022. Perusahaan juga menerapkan langkah-langkah perlindungan dan regenerasi air, serta menangani limbah makanan dalam operasinya.

Di Indonesia, Nestlesecara resmi mulai membuka bisnisnya di Indonesia dengan mendirikan perusahaan PT Food Specialities Indonesia pada 1971. Nestle Indonesia memiliki pabrik Kejayan yang merupakan salah satu dari 10 fasilitas produksi terbesar pabrikan asal Swiss itu.

Terbaru, Nestle mengungkapkan rencana ekspansi usaha di Indonesia dengan nilai investasi 100 juta dolar AS di tengah pandemi Covid-19. “Karena itu sebagai perusahaan yang memiliki komitmen jangka panjang, Nestle meyakini perlu meningkatkan kapasitas produksi untuk memenuhi kebutuhan konsumen,” ujar Presiden Direktur Nestle Indonesia Ganesan Ampalavanar.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

nestle industri makanan dan minuman emisi karbon
Editor : Fatkhul Maskur
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top