Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

DPR Pertanyakan Kementan Soal Impor Gandum untuk Pakan

DPR RI meminta Kementan menyediakan data importasi gandum untuk keperluan di luar pangan.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 17 November 2020  |  14:40 WIB
Ilustrasi tanaman gandum. - Reuters
Ilustrasi tanaman gandum. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Komisi IV DPR RI mempertanyakan para eselon I Kementerian Pertanian soal ketiadaan data impor gandum untuk pakan ternak.

Padahal, impor gandum untuk pakan diperkirakan meningkat sejak Kementan menghentikan pemberian rekomendasi impor jagung untuk pakan pada 2018.

Berdasarkan informasi yang diterima Ketua Komisi IV DPR RI Sudin, impor gandum meningkat sampai 2 juta ton per tahun sejak impor jagung pakan dihentikan. Kenaikan impor gandum ini diperkirakan tak hanya dialokasikan untuk pangan, tetapi juga untuk pakan ternak mengingat sifat gandum yang bisa mensubstitusi jagung sebagai bahan baku.

“Sejak jagung [untuk pakan] disetop impornya, terjadi kenaikan impor gandum untuk ternak sebanyak 2 juta ton. Siapa yang impor? Perusahaan pakan beli ke perusahaan tepung. Ini kan [mengarah] ke monopoli,” kata Sudin dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Kementan pada Selasa (17/11/2020).

Sepanjang Januari-September 2020, impor gandum tercatat mencapai 8,00 juta ton dengan nilai US$2,1 miliar. Angka ini lebih rendah dibandingkan dengan realisasi pada periode yang sama tahun lalu yang mencapai 8,37 juta ton dengan nilai US$2,3 miliar.

“Jangan bilang produksi jagung [di dalam negeri] cukup sehingga tidak perlu impor, tetapi yang diimpor jagung,” ujarnya.

Untuk itu, Sudin pun meminta Kementan menyediakan data importasi gandum untuk keperluan di luar pangan. Sayangnya, Kementan menyatakan tak memiliki data tersebut lantaran tidak mengeluarkan rekomendasi impor produk serealia untuk pakan sejak 2018.

“Untuk pakan ternak, datanya sampai tidak ada? Saya harus ngomong apa lagi?” kata Sudin.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementan Suwandi mengatakan perizinan impor gandum tidak diterbitkan oleh kementeriannya karena tidak masuk kelompok barang yang dilarang atau dibatasi (nonlartas). Hal serupa terjadi pada impor jagung sebagai bahan baku pemanis untuk industri dan juga impor tapioka.

“Sejak 2018 sampai sekarang kami tidak menerbitkan rekomendasi impor gandum untuk bahan pakan. Terakhir rekomendasi yang kami terbitkan untuk gandum pakan pada 2017 sebesar 200.000 ton dengan realisasi 186.000 ton,” kata Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Nasrullah.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

gandum pakan ternak impor jagung
Editor : Amanda Kusumawardhani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top