Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kuartal IV/2020, Gapmmi : Industri Mamin Akan Dapat Berkah

Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) menyatakan kuartal IV/2020 dapat menjadi momentum peningkatan utilisasi pabrikan. Walakin, ancaman penyebaran Covid-19 masih membayangi.
Fatkhul Maskur
Fatkhul Maskur - Bisnis.com 27 Oktober 2020  |  20:30 WIB
Kunjungan Menteri Perindustrian dalam rangka meninjau penerapan protokol kesehatan di lingkungan pabrik dan pelaksanaan Izin Operasionalitas dan Mobilitas Kegiatan Industri (IOMKI). Kemenperin
Kunjungan Menteri Perindustrian dalam rangka meninjau penerapan protokol kesehatan di lingkungan pabrik dan pelaksanaan Izin Operasionalitas dan Mobilitas Kegiatan Industri (IOMKI). Kemenperin

Bisnis.com, JAKARTA - Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) menyatakan kuartal IV/2020 dapat menjadi momentum peningkatan utilisasi pabrikan. Walakin, ancaman penyebaran Covid-19 masih membayangi.

Ketua Umum Gapmmi Adhi S. Lukman meyakini kuartal IV/2020 dapat menjadi peluang bagi pabrikan makanan dan minuman. Pasalnya, ujarnya, beberapa liburan panjang dalam 3 bulan terakhir 2020 dapat meningkatkan aktivitas konsumen di luar rumah.

"Dengan kegiatan-kegiatan [di luar rumah] itu pasti butuh makanan dan minuman. Industri mamin pasti salah satu yang ikut terangkat juga," ujarnya kepada Bisnis, Selasa (27/10/2020).

Adhi mendata saat ini rata-rata utilisasi industri mamin berada di posisi 70 persen. Menurutnya, momentum pada kuartal IV/2020 dapat membuat utilisasi industri mamin ditutup di atas level 70% pada tahun ini.

Namun demikian, momentum kuartal IV/2020 dinilai belum dapat membuat pertumbuhan industri mamin menyentuh level 4 persen. Seperti diketahui, Adhi merevisi pertumbuhan industri mamin dari 9 persen ke level 4 persen pada medio 2020.

"Sulit [untuk menyentuh 4 persen]. Perkiraan saya [tahun ini industri mamin tumbuh] 2-3 persen. Itu sudah mempertimbangkan banyak liburan pada kuartal IV/2020," katanya.

Adhi menyatakan pertumbuhan 2-3 persen tersebut dapat terpenuhi jika pemerintah daerah tidak lagi menetapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) secara penuh. Pasalnya, ujar Adhi, hal tersebut akan kembali menurunkan aktivitas konsumen dan peredaran barang.

Sebelumnya, Kemenperin meramalkan industri mamin diramalkan akan tumbuh hingga 9 persen pada akhir 2020 atau lebih tinggi dari realisasi 2019 yakni 7,9 persen. Namun demikian, Kemenperin terpaksa menurunkan proyeksi tersebut ke level 4 persen karena pandemi Covid-19.

"Sampai akhir tahun mungkin sekitar 3 persen. Karena beberapa kali kunjungan [ke pabrikan], industri mamin [sudah merasakan] rebound pada Juni 2020. Melihat itu, mudah-mudahan [tumbuh] 3 persen, mungkin tidak 4 persen," ujar Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Abdul Rochim kepada Bisnis.

Seperti diketahui, Purchasing Manager's Index (PMI) Indonesia mulai tumbuh berakselerasi per Juni 2020 ke level 39,1 poin atau naik 10,1 poin index dari bulan sebelumnya. Adapun, sejak Juni pergerakan PMI Indonesia terus berakselerasi sampai menyentuh level 50,8 per Agustus 2020.

"Jangan PSBB terlalu ketat. [Lakukan PSBB] di wilayah kecil saja, yang di situ merah. Kalau [PSBB] penuh, restoran tidak ada [pelanggannya], apalagi [industri] mamin kan [pertumbuhannya] di restoran," ucapnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

industri makanan dan minuman kinerja manufaktur
Editor : Fatkhul Maskur
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top