Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ekspor Veneer Kini Hanya Dikenakan Tarif 5 Persen

Implementasi beleid tersebut menjadi salah satu usaha pemerintah untuk meningkatkan daya saing ekspor veneer di tengah tantangan pandemi Covid - 19.
Edi Suwiknyo
Edi Suwiknyo - Bisnis.com 25 Oktober 2020  |  11:19 WIB
Pekerja menyelesaikan tahap produksi mebel kayu jati di Desa Mekar Agung Lebak, Banten. Kerajinan mebel berupa kursi, meja, dan tempat tidur yang berbahan dasar limbah kayu jati dan mahoni dengan harga berkisar Rp13 juta hingga Rp5 juta per unit. - Antara/Mansyur S
Pekerja menyelesaikan tahap produksi mebel kayu jati di Desa Mekar Agung Lebak, Banten. Kerajinan mebel berupa kursi, meja, dan tempat tidur yang berbahan dasar limbah kayu jati dan mahoni dengan harga berkisar Rp13 juta hingga Rp5 juta per unit. - Antara/Mansyur S

Bisnis.com, JAKARTA - Pemerintah menurunkan tarif bea keluar atas ekspor veener atau lapisan kayu tipis yang memiliki ketebalan tidak lebih dari 6 milimeter dari sebelumnya 15 persen menjadi 5 persen.

Ketentuan mengenai relaksasi tarif tersebut diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No.166/PMK.010/2020 tentang Penetapan Barang Ekspor Yang Dikenakan Bea Keluar dan Tarif Bea Keluar.

Relaksasi tarif bea keluar ini, menurut pemerintah dalam pertimbangan beleid, dilakukan untuk mendorong ekspor produk kehutanan berupa kayu veneer dan slat pencil, serta untuk mendukung hilirisasi produk kayu olahan di dalam negeri.

"[Karena itu] perlu melakukan penyesuaian terhadap tarif bea keluar dan uraian jenis barang kayu veneer dan slat pensil," tulis pertimbangan beleid yang dikutip Bisnis, Minggu (25/10/2020).

Selain merelaksasi tarif, pemerintah dalam beleid baru tersebut juga menyesuaikan tarif bea keluar dan uraian jenis barang kayu olahan berupa kayu merbau, kayu meranti putih, dan kayu meranti kuning.

Bentuk penyesuaiannya yakni dengan mengenakan bea keluar sebesar 15 persen kepada produk kayu olahan yang diratakan keempat sisinya dari jenis kayu merbau, meranti putih dan meranti kuning dengan ketentuan luas penampang lebih dari 10000 mm2 - 15000 mm2.

Adapun PMK No.166/2020 diterbitkan pemerintah pada Jumat (23/10/2020) kemarin. Implementasi beleid tersebut menjadi salah satu usaha pemerintah untuk meningkatkan daya saing ekspor veneer di tengah tantangan pandemi Covid - 19.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekspor kayu industri kehutanan
Editor : Amanda Kusumawardhani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top