Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ini 6 Poin Kajian IEEFA Menyangkut Nasib PLN

PLN dinilai perlu beradaptasi dengan transisi energi guna menyelamatkan kinerja keuangannya. Berikit kajian IEEFA yang memuat enam hal penting yang akan memengaruhi nasib PLN ke depan.
Muhammad Ridwan
Muhammad Ridwan - Bisnis.com 23 Oktober 2020  |  20:06 WIB
Ilustrasi: Teknisi PT PLN (Persero) menjalankan tugas memelihara jaringan listrik di Gardu Induk 150KV GIS Gedebage, Bandung, Jawa Barat./Bisnis - Rachman
Ilustrasi: Teknisi PT PLN (Persero) menjalankan tugas memelihara jaringan listrik di Gardu Induk 150KV GIS Gedebage, Bandung, Jawa Barat./Bisnis - Rachman

Bisnis.com, JAKARTA – PT PLN (Persero) dinilai perlu untuk beradaptasi dengan transisi energi guna menyelamatkan kinerja keuangannya. IEEFA menyebut enam poin yang menentukan nasib PLN.

Riset The Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA) menunjukkan bahwa PLN perlu merestrukturisasi bisnisnya untuk menghadapi transisi energi dan meninggalkan teknologi berbasis energi fosil yang makin menggerus keuangan PLN.

Peneliti IEEFA Melissa Brown mengatakan meski Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2020 belum terbit, tetapi materi mengenai perencanaan yang dikeluarkan PLN hingga September 2020 memberikan gambaran yang jelas mengenai posisi keuangan PLN yang rapuh hingga 2022.

“Akibat krisis Covid-19 dan pelemahan ekonomi dunia, kemungkinan besar PLN tidak dapat menaikkan tarif dasar listrik [TDL] sampai 18-36 bulan ke depan. Dengan demikian, kemungkinan untuk mencapai cashflow yang kuat juga masih sulit selama periode tersebut,” ujarnya seperti dikutip dalam keterangan resminya, Jumat (23/10/2020).

Dia menjelaskan PLN masih mengandalkan akses ke pasar obligasi internasional di saat para investor dunia kian menjauhi perusahaan yang tidak memiliki strategi kredibel dalam hadapi gelombang transisi energi yang sedang dihadapi dunia.

Melissa Brown menambahkan PLN akan lebih diuntungkan jika mampu membenahi proses perencanaan, dan memprioritaskan investasi pada jaringan dengan teknologi terbaik, serta melakukan restrukturisasi demi efisiensi.

Dalam kajian IEEFA terdapat enam hal penting yang akan memengaruhi nasib PLN ke depan.

Pertama, dalam skenario yang dikeluarkan PLN untuk 2021—2029, para perencana PLN mempertahankan asumsi pertumbuhan rata-rata tahunan 5,2 persen sejalan dengan proyeksi sebelum Covid-19, sedangkan terdapat banyak risiko terhadap pertumbuhan ekonomi dan perubahan struktural di sektor ketenagalistrikan.

Kedua, IEEFA menemukan bahwa tarif listrik harus naik sebanyak lebih dari 30 persen untuk mendukung neraca PLN yang sehat. Hal itu akan sulit dicapai tanpa persetujuan politik dan publik.

Ketiga, tanpa ada kenaikan tarif listrik, subsidi dan kompensasi yang diperlukan dari pemerintah dalam 2 tahun ke depan terpaksa naik dua kali lipat sejumlah Rp170,2 triliun untuk membayar produsen listrik swasta yang akan masuk ke dalam sistem.

Keempat, rencana pemangkasan capex dapat mencederai rencana untuk melakukan perbaikan dalam kinerja sistem, termasuk pembaharuan jaringan PLN yang membutuhkan investasi besar.

Pembaruan jaringan diperlukan karena telah terjadi ekspansi kapasitas pembangkit besar-besaran dan pengendalian sistem yang saat ini jauh dari optimal.

Kelima, meski telah ada target 23 persen energi terbarukan pada 2025, PLN masih mengikatkan diri pada pembangkit baru berbasis energi fosil dalam bauran energinya untuk satu dekade mendatang.

Sementara itu, teknologi energi terbarukan yang seharusnya bisa bersaing harganya, seperti tenaga surya dan angin, hanya mendapat jatah sebesar 3,7 persen.

Keenam, ketidaksinambungan antara sovereign rating pemerintah Indonesia dan kondisi keuangan perusahaan yang memburuk menimbulkan potensi risiko untuk para investor dan Kementerian Keuangan.

“Selama krisis Covid-19 masih berlangsung menghantui pasar negara berkembang serta harga energi global masih terus terkoreksi, maka kami melihat para investor akan lebih tajam dalam pendekatan mereka menghadapi risiko sektoral yang muncul,” jelasnya.

Dia mengatakan sektor energi dan ketenagalistrikan saat ini berada dalam arus perubahan global. Pembiayaan untuk proyek-proyek batu bara baru sudah mulai menguap, sedangkan Moody’s dan S&P kini memproyeksikan peluang yang lebih sempit bagi proyek pembangkit gas untuk bersaing secara efektif melawan energi terbarukan skala industrial yang kian hari semakin menarik dari segi biaya.

Menurut dia, pemenang dalam perlombaan transisi energi menuju energi terbarukan adalah pihak yang dapat memposisikan ulang aset-asetnya, terutama aset yang rentan terhadap risiko stranding atau menjadi terbengkalai, dan bagi perusahaan yang memahami betul aset  yang dapat memberikan nilai jangka panjang dalam sistem energi yang lebih beragam pada masa mendatang.

“RUPTL PLN yang harus menjadi katalis untuk mengkaji ulang posisi finansial PLN,” kata Melissa Brown.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

PLN listrik
Editor : M. Syahran W. Lubis
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top