Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Bos Freeport Bandingkan Tantangan Bangun Smelter Dulu & Sekarang

Banyaknya pembangunan smelter tembaga di China membuat nilai TCRC jatuh meski harga tembaga terus meningkat.
Denis Riantiza Meilanova
Denis Riantiza Meilanova - Bisnis.com 14 Oktober 2020  |  18:11 WIB
Aktivitas di tambang Freeport, Papua. - Bloomberg/Dadang Tri
Aktivitas di tambang Freeport, Papua. - Bloomberg/Dadang Tri

Bisnis.com, JAKARTA — Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Tony Wenas membandingkan tantangan pembangunan smelter tembaga saat ini dengan pembangunan smelter pada 23 tahun yang lalu.

Pada 1997, sebagai kewajiban dari kontrak karya (KK), PT Freeport Indonesia PTFI bersama dengan Mitsubishi mendirikan PT Smelting yang merupakan fasilitas pemurnian tembaga pertama di Indonesia. Pembangunan smelter hanya membutuhkan waktu sekitar 2 tahun.

Saat ini, PTFI juga tengah membangun smelter tembaga baru sebagai kesepakatan perpanjangan operasi dalam bentuk izin usaha pertambangan khusus (IUPK). Namun sejak 2018, perkembangan pembangunan smelter yang didirikan di Gresik, Jawa Timur tersebut baru mencapai 5,86 persen per September 2020.

Tony mengungkapkan bahwa pada 1997, pembangunan smelter tembaga terlihat cukup menjanjikan karena kala itu kapasitas smelter dunia belum sebesar seperti sekarang. Saat itu, nilai treatment charge and refining charge (TCRC) dari pengolahan konsentrat sekitar US$0,28 sen per pound dengan harga tembaga pada kisaran US$1,03 per pound.

"Saat itu secara ekonomis bukan bisnis yang sangat menguntungkan, melainkan marginal. Namun, kenyataannya setelah PT Smelting beroperasi dan berekspansi dalam 5 tahun, kemudian China ramai bangun smelter. Inilah mulai terjadi over capacity dari smelter," ujar Tony dalam webinar, Rabu (14/10/2020).

Banyaknya pembangunan smelter tembaga di China membuat nilai TCRC jatuh meski harga tembaga terus meningkat.

"Sekarang harga tembaga US$3 per pound, tapi TCRC tetap di kisaran US$0,18," katanya.

Oleh karena itu, Tony menilai bahwa pembangunan smelter tembaga saat ini tidak ekonomis. Dengan investasi senilai US$3 miliar, diperlukan TCRC paling tidak sekitar US$0,52 per pound supaya pembangunan smelter menguntungkan.

Dia mengatakan bahwa terdapat selisih total biaya operasi smelter dan TCRC pasar senilai US$0,26 per pound. Ini setara dengan kerugian US$300 juta per tahun.

"TCRC adalah pendapatan utama sehingga biaya opex [operational expenditure] harus lebih rendah dari TCRC, baru bisa untung. TCRC pasar dunia memang rendah karena memang terutama utilisasi kapasitas smelter dunia itu menunjukkan jauh melebihi daripada produksi konsentrat dunia," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

smelter
Editor : Zufrizal
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top