Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Produksi Smelter Nikel Indonesia Masih Didominasi Produk Kelas Dua

Total cadangan bijih nikel kadar tinggi (saprolite) Indonesia hanya sekitar 930 juta ton.
Denis Riantiza Meilanova
Denis Riantiza Meilanova - Bisnis.com 14 Oktober 2020  |  06:28 WIB
Pekerja mengeluarkan biji nikel dari tanur dalam proses furnace di smelter PT. Vale Indonesia di Sorowako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Sabtu (30/3/2019). - ANTARA/Basri Marzuki
Pekerja mengeluarkan biji nikel dari tanur dalam proses furnace di smelter PT. Vale Indonesia di Sorowako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Sabtu (30/3/2019). - ANTARA/Basri Marzuki

Bisnis.com, JAKARTA — Perkembangan produksi smelter nikel Indonesia terbilang cukup signifikan, terutama setelah adanya percepatan larangan ekspor bijih nikel.

Hanya saja, kata Staf Khusus Menteri ESDM Bidang Tata Kelola Mineral dan Batubara Irwandy Arif, seluruh produknya masih berupa produk antara (intermidiate) dan didominasi oleh produk kelas dua, yakni nickel pig iron (NPI) dan feronikel (FeNi).

"Produksi kita paling besar yang kelas dua ini.  Ini yang kira-kira mengeruk terus saprolite, nikel kadar tinggi, sedangkan yang kelas satu yang memproduksi Ni Matte dan MHP yang menggunakan limonite, produksinya masih kurang," kata Irwandy dalam webinar, Selasa (13/10/2020).

Total cadangan bijih nikel kadar tinggi (saprolite) Indonesia hanya sekitar 930 juta ton, jauh lebih rendah dibandingkan dengan cadangan dari bijih nikel kadar rendah (limonite) yang mencapai 3,6 miliar ton.

Oleh karena itu, saat ini Indonesia tengah mengembangkan teknologi hidrometalurgi (high pressure acid leach/HPAL) untuk pengolahan bijih nikel kadar rendah. Namun, proyek smelter HPAL ini merupakan proyek sensitif karena selain membutuhkan belanja modal yang besar, prosesnya juga rumit dan memerlukan pengalaman yang cukup untuk membangun dan menjalankan proyek tersebut.

Irwandy menuturkan bahwa di dunia saat ini baru ada dua smelter HPAL yang sukses, yakni di Coral Bay, Filipina dan Moa Bay di Kuba.

"Penguasaan processing technology terutama RKEF, HPAL, Ni/Co SO4 refinery, battery precursors, chatode, anode, battery pack, oleh BUMN atau perusahaan nasional sangat penting agar secara jangka panjang BUMN atau perusahaan nasional bisa lebih menguasai industri nikel dari hulu ke hilir untuk kemandirian Indonesia," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

smelter
Editor : Zufrizal
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top