Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Investasi Pabrik Gula Tebu Wajib Perhatikan Lahan dan Petani

Asosiasi Gula Indonesia (AGI) menilai target investasi pabrik gula pemerintah perlu diimbangi dengan jaminan ketersediaan lahan dan perhatian pada petani.
Ipak Ayu H Nurcaya
Ipak Ayu H Nurcaya - Bisnis.com 17 September 2020  |  12:28 WIB
Buruh memanen tebu untuk dikirim ke pabrik gula di Ngawi, Jawa Timur, Selasa (8/8). - ANTARA/Ari Bowo Sucipto
Buruh memanen tebu untuk dikirim ke pabrik gula di Ngawi, Jawa Timur, Selasa (8/8). - ANTARA/Ari Bowo Sucipto

Bisnis.com, JAKARTA — Asosiasi Gula Indonesia (AGI) menilai target investasi pabrik gula pemerintah perlu diimbangi dengan jaminan ketersediaan lahan dan perhatian pada petani.

Hal tersebut mengingat Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 10/2017 tentang Fasilitas Memperoleh Bahan Baku dalam Rangka Pembangunan Industri Gula.

Dengan regulasi di atas investor memiliki kewajiban mengintegrasikan pabrik dengan perkebunan tebu yang dimiliki sendiri oleh perusahaan industri ataupun bermitra dengan petani tebu minimal 20 persen untuk pemenuhan bahan baku di awal.

Direktur Eksekutif AGI Budi Hidayat mengatakan dengan mulai beroperasinya pabrik gula baru berbasis tebu yang perlu dilakukan adalah monitoring kontinuitas produksi masing-masing pabrik gula tersebut, yakni dengan rutin memantau jumlah produksi yang dihasilkan.

Adapun berkaitan dengan target pendirian pabrik gula baru yang perlu dicermati adalah penyediaan lahan. Pasalnya, realisasi sampai dengan akhir 2019 luas lahan menurun.

"Tanaman tebu di pulau Jawa mayoritas milik petani perlu ada perhatian terhadap kebutuhan petani mulai dari kebutuhan benih yang sertifikatnya jelas untuk menjamin kualitas gula, kebutuhan pupuk atau sarana produksi serta kebutuhan dana," katanya kepada Bisnis, Kamis (17/9/2020).

Budi memastikan jika hanya pembangunan pabrik saja tentu tidak menjadi masalah. Namun, ketersediaan lahannya yang harus disiapkan, jangan sampai pabrik berdiri kesulitan bahan baku.

Menurut Budi, pihaknya juga sudah mendengar ada beberapa calon investor yang mendapat izin investasi pabrik gula baru tetapi belum direalisasi. Budi hanya berharap, adanya pabrik gula baru nanti akan mampu meningkatkan produksi dan mimpi untuk swasembada gula tercapai.

Sisi lain, saat ini pabrikan semua tengah memasuki puncak masa giling. Dengan demikian stok untuk gula konsumsi diproyeksi tidak akan ada masalah.

Sementara itu, prediksi produksi sesuai rapat dengan Dirjenbun pada semester I/2020 lalu diperkirakan 2,2 juta ton atau sama dengan produksi gula pada 2019 lalu atau sedikit di atas 2018 yang sebesar 2,1 juta ton.

Adapun tahun ini diperkirakan ada perluasan areal tebu di luar Jawa sehingga total Iuas areal tebu giling tahun ini menjadi sekitar 419.993 hektare (ha).

Menurut Budi, pada 2019 memang terjadi penurunan Iuas tebu digiling dari 2018 seluas 413.432 ha menjadi 411.435 ha, tetapi diimbangi kenaikan produktivitas gula dari 5,26 ton menjadi 5.41 ton guIa/ha.

"Secara angka stok dan konsumsi belum kami hitung lagi. Untuk konsumsi saya yakin jumlahnya menurun pada saat pandemi paling tidak untuk hotel, restoran, dan kantor yang memengaruhi konsumsi total akan turun," ujar Budi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pabrik gula petani tebu
Editor : Fatkhul Maskur
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top