Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Harga Jual Listrik Jadi Kunci dalam Pengembangan Panas Bumi

API menilai dalam beberapa tahun belakangan pengembangan panas bumi di Indonesia belum terlalu menggembirakan.
Denis Riantiza Meilanova
Denis Riantiza Meilanova - Bisnis.com 08 September 2020  |  19:08 WIB
Pekerja melakukan pemeriksaan rutin jaringan instalasi pipa di wilayah Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Salak yang berkapasitas 377 megawatt (MW) milik Star Energy Geothermal, di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Rabu (4/4/2018). - JIBI/Rachman
Pekerja melakukan pemeriksaan rutin jaringan instalasi pipa di wilayah Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Salak yang berkapasitas 377 megawatt (MW) milik Star Energy Geothermal, di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Rabu (4/4/2018). - JIBI/Rachman

Bisnis.com, JAKARTA — Ketua Asosiasi Panasbumi Indonesia Prijandaru Effendi menilai strategi penetapan tarif atau harga jual listrik yang dihasilkan oleh pembangkit listrik panas bumi menjadi kunci paling penting untuk mengoptimalkan pengembangan panas bumi.

Dia mengatakan bahwa dalam beberapa tahun belakangan pengembangan panas bumi di Indonesia belum terlalu menggembirakan.

Oleh karena itu, untuk mendorong pengembangan panas bumi, pemerintah dengan dukungan Asosiasi Panasbumi Indonesia (API) tengah menyusun peraturan presiden yang akan mengatur tarif baru untuk pembangkit panas bumi.

"Pemerintah tengah menyiapkan Perpres EBT untuk menjawab permintaan investor atas strategi penetapan harga dan terobosan regulasi dan pada saat yang sama menjamin keterjangkauan harga bagi PLN. Perpres diharapkan dapat menjaga minat investor untuk berinvestasi dan mengembangkan panas bumi di Indonesia," katanya ketika menyampaikan sambutan pada acara Digital Indonesia International Geothermal Convention (DIIGC) 2020, Selasa (8/9/2020).

Prijandaru menyebutkan bahwa saat ini, sudah ada sejumlah proyek panas bumi yang bisa segera direalisasikan begitu perpres tersebut diterbitkan.

Dia optimistis di tengah kondisi pandemi yang penuh tantangan ini, peningkatan investasi di sektor panas bumi akan mampu secara signifikan berkontribusi terhadap pemulihan ekonomi pascapandemi Covid-19.

"Kami juga memastikan bahwa investor panas bumi tidak mencari untung yang berlebihan. Kami hanya ingin seperti investor lainnya, yakni mendapat keuntungan sesuai dengan risiko investasi yang ditanggung. Kami berharap perpres ini dapat menarik minat investor," ujar Prijandaru.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

panas bumi tarif listrik
Editor : Zufrizal
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top