Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Serapan Lokal Rendah, Pabrikan APD Andalkan Ekspor

Industri alat pelindung diri (APD) medis akhirnya mengekspor sebagian besar produksinya lantaran pasar domestik dipenuhi oleh APD impor dan konsumen lokal yang terlihat lebih gemar memakai barang impor.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 07 September 2020  |  18:34 WIB
Petugas medis di Victoria yang sedang mengenakan APD.  - Bloomberg
Petugas medis di Victoria yang sedang mengenakan APD. - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Industri alat pelindung diri (APD) medis akhirnya mengekspor sebagian besar produksinya lantaran pasar domestik dipenuhi oleh APD impor dan konsumen lokal yang terlihat lebih gemar memakai barang impor.

Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) menyatakan sekitar 60 persen dari produksi APD lokal disalurkan ke pasar global, mayoritas ke negara-negara di Eropa. Pasalnya, berdasarkan laporan API, tenaga kesehatan di dalam negeri lebih nyaman memakai APD tanpa rajutan (nonwoven) yang notabenenya APD impor.

"Standar nyaman ini tidak bisa jadi acuan untuk jadi alasan impor, sedangkan menurut uji lab APD lokal memenuhi syarat. [Beberapa produsen] bahkan ada yang sampai level 4 menurut ISO 16064," ujar Sekretaris Jenderal API Rizal Rakhman kepada Bisnis, Senin (7/9/2020).

Rizal mengatakan pihaknya akan menyambut positif jika pemerintah mengeluarkan aturan yang membuat tenaga kesehatan di dalam negeri memprioritaskan penggunaan APD medis lokal. Sejauh ini, pemerintah tidak memberikan arahan untuk memprioritaskan penggunaan APD lokal.

Badan Pusat Statistik (BPS) mendata volume impor APD per Juli 2020 telah turun secara drastis secara bulanan. Volume APD yang tercatat dalam pos tarif 6210.10.19 dan 6211.43.10 mengalami rata-rata penurunan sekitar 81,7 persen per Juli 2002 dibandingkan bulan sebelumnya.

Volume impor APD coverall yang tercatat pada pos tarif 6210.10.19 turun 95,36 persen pada awal kuartal III/2020 dari 208.834 Kilogram per Juni 2020 menjadi 9.676 Kilogram. Adapun, volume impor jubah medis turun 68.04 persen menjadi 8.157 Kilogram.

Walaupun volume APD impor telah menurun drastis, volume impor sepanjang Januari-Juli 2020 telah mencapai 781.853 Kilogram. ANgka tersebut meroket 2.471,54 persen dari periode yang sama tahun lalu yakni sebesar 30.404 Kilogram.

Di sisi lain, Rizal menyatakan utilisasi industri APD di dalam negeri telah membaik per Agustus 2020 walau masih belum berada di titik optimal. Menurutnya, hal tersebut disebabkan oleh dibukanya keran ekspor APD.

BPS mendata ekspor APD berbentuk jubah medis mulai melonjak sejak Mei 2020, sedangkan APD coverall sejak Juni 2020. Performa ekspor APD lokal yang tinggi membuat neraca volume dagang APD nasional telah positif sejak keran ekspor dibuka per Juni 2020.

"Kami minta keran ekspor APD dibuka untuk membuka kebuntuan penyerapan APD [di dalam negeri. Itu didukung banget sama Kementerian Perindustrian, kemudian mereka koordinasi dengan Kementerian Perdagangan," ucapnya.

Berdasarkan data Kemenperin per Juli 2020, telah ada 144 pabrikan APD medis sekali pakai dengan kapasitas terpasang mencapai 59,6 juta unit per bulan. Adapun, rata-rata utilitas 144 pabrikan tersebut mencapai 80,64 persen atau dapat memproduksi 48 juta unit per bulan.

Dengan kata lain, akan ada 432,65 juta unit APD medis sekali pakai yang diproduksi di dalam negeri hingga akhir 2020, sedangkan permintaan sampai akhir tahun diperkirakan hanya mencapai 11,7 juta unit. Alhasil, pabrikan APD medis sekali pakai lokal berpotensi mengekspor produknya sebanyak 420.91 juta unit pada tahun ini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

apd Impor APD
Editor : Fatkhul Maskur
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top