Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Deflasi Lagi, Inflasi 2020 Bisa Jadi Terburuk dalam Sejarah

Virus yang menyerang sejak Maret lalu menggerogoti konsumsi seluruh lapisan masyarakat, sehingga menekan laju inflasi.
Jaffry Prabu Prakoso
Jaffry Prabu Prakoso - Bisnis.com 01 September 2020  |  19:45 WIB
Pedagang menata barang dagangannya di Pasar Senen, Jakarta, Senin (4/5/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Pedagang menata barang dagangannya di Pasar Senen, Jakarta, Senin (4/5/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat indeks harga konsumen (IHK) pada Agustus alami deflasi 0,05 persen. Bulan sebelumnya juga sama, yaitu 0,10 persen.

Ini membuat laju IHK sepanjang tahun kalender hanya sebesar 0,93 persen. Padahal, 4 bulan lagi tahun 2020 akan berakhir.
 
Direktur Eksekutif Center of Reform in Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal mengatakan bahwa biasanya, dalam dua bulan pertama inflasi bisa di atas 1 persen.
 
“Saya perkirakan tahun ini bisa jadi inflasi paling rendah dalam 20 tahun terakhir. Atau mungkin secara keseluruhan karena kita tidak pernah di bawah 2 persen,” katanya saat dihubungi, Selasa (1/9/2020).
 
Mengacu pada data BPS, Faisal memperkirakan inflasi 2020 paling tinggi 1,5 persen. Penyebab utamanya adalah pandemi Covid-19.
 
Virus yang menyerang sejak Maret lalu menurutnya menggerogoti konsumsi seluruh lapisan masyarakat. Rendahnya permintaan sehingga membuat inflasi tidak begitu sehat.
 
Faisal menjelaskan bahwa inflasi yang sehat adalah saat permintaan tinggi tapi kemampuan pemerintah dalam menahan kenaikan harga barang bagus. Bukan seperti saat ini penyebab turunnya komoditas karena permintaan rendah.
 
“Ini akhirnya terkait juga dengan pertumbuhan ekonomi. Maka wajar inflasi rendah karena demand rendah. Ini biasanya berkolerasi dengan pertumbuhan yang rendah. Kita prediksi pertumbuhan tahun ini bukan rendah lagi tapi kontraksi di kisaran -1,5 sampai 3 persen,” jelasnya.
 
Bukan hanya IHK saja yang serapannya rendah, Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur pun sama. Tercatat dari 46,9 pada Juli menjadi 50,8 bulan selanjutnya.
 
Faisal menuturkan bahwa permintaan yang lemah terjadi baik dalam maupun luar negeri. Hal yang bisa dilakukan hanya kontrol dalam negeri.
 
Pemerintah bisa meminta kementerian atau lembaga negara sejenis untuk lebih memprioritaskan pengadaan barang dan jasa produk lokal. Boleh mengambil dari luar apabila internal benar-benar tidak bisa memproduksinya.

“Selain itu juga ada kebijakan yang terkait sehingga industri manufaktur bisa mendapatkan jaminan pasar dari dalam negeri,” jelasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Inflasi Pertumbuhan Ekonomi deflasi
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top