Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pandemi Covid-19, Perencanaan Bisnis Properti Perlu Penyesuaian

Pandemi Cobid-19 membuat semua aspek kehiduoan berubah, termasuk bisnis properti yang memerlukan penyesuaian.
Yanita Petriella
Yanita Petriella - Bisnis.com 25 Agustus 2020  |  20:57 WIB
Perkantoran di kawasan bisnis terpadu Sudirman Central Business District (SCBD) Jakarta./Antara - Andika Wahyu
Perkantoran di kawasan bisnis terpadu Sudirman Central Business District (SCBD) Jakarta./Antara - Andika Wahyu

Bisnis.com, JAKARTA – Di tengah pandemi Covid-19 perlu ada penyesuaian perencanaan pembangunan properti.

Direktur Eksekutif Jakarta Property Institute (JPI) Wendy Haryanto mengapresiasi kebijakan baru dari Pemprov DKI Jakarta yang tengah membuat regulasi mengatur fleksibilitas pemanfaatan ruang untuk menyikapi kondisi di tengah pandemi Covid-19.

Sebelum pandemi Covid-19, lanjutnya, sudah banyak gedung perkantoran yang kosong. Menurutnya, kondisi tersebut jumlahnya akan semakin meningkat jika semua perencanaan pembangunan gedung baru terwujud, dan perusahaan semakin banyak yang menerapkan work from home (WFH).

"Jakarta sebelum ada pandemi sudah mengalami oversupply ruang kantor sehingga saat ini ketika ada pandemi, makin banyak space yang idle. Ini karena banyak ruang kantor yang belum terisi dan yang kedua karena banyak yang work from home,"  ujarnya dalam Webinar Fleksibilitas Ruang: Kunci Ketahanan Kota pada Selasa (25/8/2020).

Untuk pemilik gedung, kondisi saat ini sangat memerlukan biaya tinggi karena harus melakukan perawatan gedung dengan performance tetap yang sama seperti AC tetap jalan dan tingginya safety pada masa pandemi ini.

Menurutnya, untuk gedung yang belum terbangun, penyesuaiannya bisa berupa penambahan fungsi hunian dan koefisien lantai bangunan di area yang akan dibangun.

Dengan begitu, perencanaan pembangunan gedung tetap bisa dilanjutkan karena sektor properti memiliki keterkaitan dengan puluhan usaha lain di sektor industri dan jasa-jasa.

“Maka penyesuaian perencanaannya harus dimulai sejak sekarang dan disertai dengan dasar hukum yang jelas. Hubungannya tentu ke perekonomian yang akan bergerak jika ada pembangunan,” ucapnya.

Menurutnya, penambahan fungsi hunian bukan hanya menyelesaikan kurangnya psokan hunian. Namun, pusat bisnis, area perkantoran, dan fungsi hunian dalam satu kawasan campuran membuat kota lebih dinamis.

“Pandemi yang mengubah pola aktivitas masyarakat membuat fleksibilitas pemanfaatan ruang menjadi sangat penting,” tutur Wendy.

Dalam kesempatan yang sama Regional Leader of Planning HOK Hong Kong, Christian Aryo Bravianto, menuturkan kondisi saat ini mendorong adanya pengkajian ulang perencanaan pengembangan lahan atau kawasan.

Salah satu caranya, mendorong dan memberikan kesempatan peralihan fungsi pada bangunan dan kawasan, baik untuk bangunan yang sudah ada atau kawasan yang sudah direncanakan.

“Fleksibilitas lahan yang adaptif menjadi kunci untuk menjaga kesinambungan pada pengembangan konstruksi dan perencanaan kota,” ujarnya

Perkembangan kota pada saat pandemi, menghadapi banyak tantangan lantaran adanya keterbatasan ruang gerak masyarakat. Kebutuhan permintaan untuk ruang dan penggunaan lahan pun mengalami perubahan.

"Sebelum pandemi, permintaan untuk pengembangan area komersial di pusat kota sangat tinggi dan untuk kota satelit lebih fokus pada pengembangan permukiman," tuturnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bisnis properti Virus Corona
Editor : M. Syahran W. Lubis
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top