Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kritik Sri Mulyani Soal Resesi, Rizal Ramli: Kok Menkeu Kaya Orang Bohong

Ekonom senior Rizal Ramli mengatakan secara teknis, negara telah memasuki resesi, namun pemerintah berupaya menjelaskan hal yang berbeda.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 22 Agustus 2020  |  15:48 WIB
Mantan Menko Maritim Rizal Ramli (kanan) memberikan keterangan pers saat melakukan pelaporan terkait pencemaran nama baik dirinya oleh Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh, di Bareskrim Polri, Gambir, Jakarta, Selasa (16/10/2018). - ANTARA/Aprillio Akbar
Mantan Menko Maritim Rizal Ramli (kanan) memberikan keterangan pers saat melakukan pelaporan terkait pencemaran nama baik dirinya oleh Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh, di Bareskrim Polri, Gambir, Jakarta, Selasa (16/10/2018). - ANTARA/Aprillio Akbar

Bisnis.com, JAKARTA – Ekonom senior Rizal Ramli mengkritik cara komunikasi pemerintah dalam menjelaskan kondisi ekonomi terkini di tengah masa pandemi corona. Rizal mengatakan secara teknis, negara telah memasuki resesi, namun pemerintah berupaya menjelaskan hal yang berbeda.

“Saya lihat ada kebiasaan berbohong. Menular rupanya penyakit itu. Menkeu (Menteri Keuangan Sri Mulyani) mengatakan kita belum resesi. Ini kok bisa Menkeu kayak orang bohong bilang belum resesi,” tutur Rizal, Jumat (21/8/2020).

Menurut Rizal, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I yang sebesar 2,97 persen sudah mengalami kontraksi 2,41 persen dibandingkan dengan kuartal IV 2019. Kemudian pada kuartal II, pertumbuhan ekonomi lagi-lagi terkontraksi -5,32 persen atau minus 4,19 persen ketimbang kuartal I 2020.

Sedangkan pemerintah menyebut Indonesia belum mengalami resesi. Hal ini mengacu pada pertumbuhan ekonomi secara year on year yang terjadi pada kuartal I dan II. Pada kuartal I, pertumbuhan masih menorehkan catatan positif. Lantas pada kuartal II, barulah pertumbuhan mengalami kontraksi karena PDB anjlok. Resesi pun diyakini baru akan terjadi seandainya pada kuartal III nanti, pertumbuhan ekonomi kembali minus.

Hal itu itu dinilai tidak sesuai dengan kondisi di lapangan. “Rakyat sudah resesi beberapa bulan lalu. Makan susah,” tuturnya.

Di sisi lain, Rizal juga mengkritik narasi pemerintah yang acap membandingkan pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura yang mengalami kontraksi jauh lebih dalam. Pemerintah mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih baik.

Menurut Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman era Kabinet Indonesia Kerja tersebut, situasi ini tak sebanding karena kesejahteraan penduduk di dua negara itu berkali-kali lipat jauh lebih tinggi dari Indonesia. “(Pendapatan per kapita) Kita US$ 4.000. Sedangkan Malaysia US$12 ribu dan Singapura US$57 ribu,” tuturnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kemenkeu sri mulyani resesi pemulihan ekonomi

Sumber : Tempo

Editor : Ropesta Sitorus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top