Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Perlambatan Pertumbuhan Penjualan Toserba Diperkirakan Berlanjut di Semester II

Perlambatan tersebut terjadi meskipun ada harapan minat belanja masyarakat meningkat, setelah dibukanya pusat-pusat perbelanjaan dan berjalannya penjualan daring.
Rahmad Fauzan
Rahmad Fauzan - Bisnis.com 09 Agustus 2020  |  18:32 WIB
Warga berbelanja kebutuhan pangan dan rumah tangga di salah satu supermarket di Cimahi, Jawa Barat, Minggu (19/4/2020). Bisnis - Rachman
Warga berbelanja kebutuhan pangan dan rumah tangga di salah satu supermarket di Cimahi, Jawa Barat, Minggu (19/4/2020). Bisnis - Rachman

Bisnis.com, JAKARTA – Perlambatan pertumbuhan penjualan yang melanda bisnis ritel modern segmen toko serba ada (toserba) di sepanjang semester I/2020 diperkirakan bakal berlanjut pada paruh kedua 2020.

Direktur Bina Usaha dan Pelaku Distribusi Kementerian Perdagangan (Kemendag) Nina Mora mengatakan perlambatan tersebut terjadi meskipun ada secercah harapan dengan meningkatnya minat belanja masyarakat, setelah dibukanya pusat-pusat perbelanjaan dan berjalannya penjualan daring.

"Seiring dengan mulai dibukanya mal-mal, serta penerapan strategi penjualan barang dagangan secara online, toserba yang selama PSBB sempat terpuruk diharapkan dapat sedikit kembali pulih dan omsetnya diharapkan perlahan dapat terus naik seiring minat masyarakat berbelanja di department store," kata Nina kepada Bisnis, Minggu (9/8/2020).

Adapun, perlambatan di bisnis ritel segmen toserba pada semester kedua tahun ini diperkirakan terjadi akibat turunnya alokasi belanja masyarakat untuk keperluan-keperluan seperti baju, kosmetik, dan produk fesyen lainnya. Pasalnya masyarakat saat ini memilih mengalihkan dananya ke kebutuhan pokok serta kesehatan.

Namun, momentum liburan Natal dan Tahun Baru diharapkan dapat memberikan efek positif. Pasalnya, dia memperkiakan bakal banyak penawaran-penawaran potongan harga pada momen tersebut yang dapat berlanjut ke peningkatan daya konsumsi masyarakat.

Pelaku usaha ritel pun diharapkan mampu lebih inovatif dalam menghadapi situasi dan kondisi yang tidak menentu seperti pada saat pandemi Covid-19 sekarang ini agar dapat bertahan.

Sejumlah inovasi seperti layanan pengiriman dengan metode pemesanan yang sederhana, kemudahan akses bagi konsumen, pemanfaatan omnichannel melalui internet, media sosial, aplikasi pesan dan obrolan, serta pemaduan antara penjualan luring dan daring dapat diterapkan dalam rangka membantu memenuhi keperluan konsumen.

"Selain itu, pelaku usaha ritel toserba harus meningkatkan kualitas produk dan layanan, mengikuti perkembangan preferensi konsumen, serta mengidentifikasi lokasi yang strategis sesuai dengan target pangsa pasarnya," ujar Nina.

Dihubungi secara terpisah, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Nicholas Mandey mengatakan penjualan sektor ritel modern di segmen toserba pada semester II/2020 berpeluang kembali menggeliat.

Namun, kondisi itu dapat terjadi dengan catatan, tidak adanya gelombang kedua penularan Covid-19, kian longgarnya penerapan PSBB, penyaluran stimulus yang makin efektif dan meningkatnya optimisme akan diproduksinya vaksin Covid-19.

Mengacu kepada faktor-faktor tersebut, Roy berharap pertumbuhan penjualan ritel di segmen toserba setidaknya dapat bertumbuh di kisaran 1,5-2 persen pada semester II/2020

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ritel kemendag ritel modern
Editor : Yustinus Andri DP
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top