Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Atasi Banjir APD Impor, Ini yang Harus Dilakukan Pemerintah

Berdasarkan data devisa impor yang tercatat di Lembaga Nasional Single Window (LNSW), jumlah devisa impor barang penanganan Covid-19 sampai dengan 20 Juli 2020 mencapai US$407,5 juta atau sekitar Rp6,1 triliun (kurs 15.000 per dolar). 
Rahmad Fauzan
Rahmad Fauzan - Bisnis.com 26 Juli 2020  |  20:22 WIB
Sejumlah petugas medis memakamkan jenazah pasien positif COVID-19 dengan menggunakan alat pelindung diri (APD) lengkap di Padang, Sumatera Barat, Sabtu (28/3/2020). - ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra
Sejumlah petugas medis memakamkan jenazah pasien positif COVID-19 dengan menggunakan alat pelindung diri (APD) lengkap di Padang, Sumatera Barat, Sabtu (28/3/2020). - ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra
Bisnis.com, JAKARTA -- Pemerintah dinilai harus menyetop izin impor alat pelindung diri (APD) untuk jenis produk yang sudah bisa diproduksi di dalam negeri dan menghapus pajak ekspor APD lokal agar mampu bersaing di pasar internasional.
Menurut Ketua Umum Ikatan Ahli Tekstil Indonesia (Ikatsi) Suharno Rusdi, upaya tersebut akan mengatasi banjir produksi APD impor yang terjadi setelah terlalu luasnya pintu impor yang dibuka pemerintah akibat ketidaksiapan menghadapi pandemi virus corona (Covid-19).
"Hampir semua permohonan izin impor APD dari para importir dikabulkan oleh pemerintah, dan semua bentuk produk APD dari luar negeri, terutama China, masuk ke Indonesia," kata Suharno kepada Bisnis, Minggu (26/7/2020).
Berdasarkan data devisa impor yang tercatat di Lembaga Nasional Single Window (LNSW), jumlah devisa impor barang penanganan Covid-19 sampai dengan 20 Juli 2020 mencapai US$407,5 juta atau sekitar Rp6,1 triliun (kurs 15.000 per dolar). 

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat impor pakaian pelindung medis (PPM) maupun jubah bedah terus tumbuh secara nilai pada Mei 2020.

Volume impor PPM pada medio kuartal II/2020 naik lebih dari dua kali lipat atau 101.9 persen menjadi 355,5 ton. Dengan demikian, volume impor PPM selama Januari-Mei 2020 melesat lebih dari 5.600 persen.
Dia menjelaskan, tingginya angka impor APD di Indonesia disebabkan oleh 2 hal; pertama, para importir yang pada umumnya melakukan kontrak jangka panjang; kedua, harga APD impor relatif lebih murah, terutama dari China.
"Kita tau, pada bulan Juni China berhasil mengatasi pandemi Corona. Pabrik-pabrik yang setop saat lockdown mulai jalan lagi seperti semula, dan banyak pabrik tekstil yang banting setir memproduksi APD. Banyak produknya yang masuk ke pasar kita sekarang," ungkapnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

apd covid-19
Editor : Amanda Kusumawardhani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top