Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pemulihan Ekonomi China Berlanjut di Semester II/2020

China akan terus memusatkan pada stabilisasi pekerjaan dan memastikan kelangsungan hidup korporasi sembari mempertahankan ruang kebijakan untuk guncangan yang timbul dari potensi kebangkitan pandemi Covid-19.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 20 Juli 2020  |  13:24 WIB
Warga menggunakan masker saat berjalan melewati toko-toko di Nanjing Road di Shanghai, China, Sabtu (14/3/2020). Bloomberg - Qilai Shen
Warga menggunakan masker saat berjalan melewati toko-toko di Nanjing Road di Shanghai, China, Sabtu (14/3/2020). Bloomberg - Qilai Shen

Bisnis.com, JAKARTA – Pemulihan ekonomi China diperkirakan akan berlanjut pada paruh kedua tahun ini. Untuk itu, diperlukan lebih banyak kebijakan untuk memfasilitasi kembalinya sektor jasa dan memacu konsumsi.

Banyak ekonom melihat kebijakan pemerintah China akan fokus pada mempersempit kesenjangan pembangunan di tengah rebound yang cepat namun tidak merata guna mengonsolidasikan ketahanan ekonomi jangka panjang.

Mereka memperkirakan tujuan utama pemerintah adalah untuk terus memusatkan pada stabilisasi pekerjaan dan memastikan kelangsungan hidup korporasi sembari mempertahankan ruang kebijakan untuk guncangan yang timbul dari potensi kebangkitan pandemi Covid-19.

Meski dunia masih bergulat dengan dampak Covid-19, ekonomi China mampu rebound dengan berekspansi 3,2 persen pada kuartal II/2020 dari tahun sebelumnya.

Tak hanya memutar balik kontraksi sebesar 6,8 persen pada kuartal I/2020, capaian tersebut lebih baik dari dari ekspektasi ekonom.

Para analis kini mempertimbangkan keberlanjutan momentum rebound yang kuat dan bagaimana kebijakan China dapat berkembang pada paruh kedua tahun ini untuk menjaga ekonominya dalam jalur pemulihan yang stabil.

Pandangan umum di antara para ekonom adalah bahwa pemulihan China akan berlanjut pada paruh kedua. Namun, lajunya mungkin akan lebih lambat karena ekonomi terus menghadapi tantangan berat seperti tekanan pengangguran yang terus-menerus dan kemungkinan gelombang baru Covid-19.

Menurut para ekonom, China perlu meningkatkan dukungan kebijakan untuk mengatasi beberapa pola yang tidak merata di balik rebound yang kuat.

Sebagai contoh, konsumsi rumah tangga tetap lesu karena penjualan ritel nasional turun 1,8 persen secara year-on-year pada Juni 2020, dan pemulihan sektor jasa telah tertinggal produksi industri dan pertumbuhan konstruksi negara ini.

“Ekonomi telah pulih dengan baik sehubungan dengan produksi industri sementara jasa terpukul pada paruh pertama tahun ini,” kata Kepala unit ekonomi untuk Asian Development Bank di China Dominik Peschel, dilansir dari China Daily, Senin (20/7/2020).

Para ekonom mengharapkan kebijakan-kebijakan yang lebih mendukung akan diluncurkan untuk memfasilitasi pemulihan yang lebih kuat dari sektor jasa serta demi memacu konsumsi domestik.

Peschel mengatakan bahwa dimulainya kembali konsumsi rumah tangga akan memainkan peran penting untuk kelangsungan pemulihan China dalam beberapa bulan mendatang.

“Prasyarat konsumsi domestik untuk meningkat termasuk penghindaran gelombang kedua Covid-19, kebijakan pemerintah yang bertujuan menstabilkan lapangan kerja dan pendapatan rumah tangga, serta peningkatan sentimen konsumen,” terang Peschel.

Sementara itu, upaya-upaya kebijakan harus terus fokus pada memastikan bahwa perusahaan-perusahaan terutama usaha kecil dan menengah memperoleh kredit yang cukup dengan suku bunga yang wajar.

“Ini lantaran penciptaan lapangan kerja dan peningkatan mata pencaharian dasar masyarakat sangat bergantung pada kapasitas bisnis untuk terus mempekerjakan staf di lingkungan ekonomi yang menantang,” lanjutnya.

Sebagian besar ekonom tidak melihat perubahan kondisi yang cepat dari keseluruhan pelonggaran kebijakan China setelah seorang pejabat senior dari Biro Statistik Nasional mengatakan bahwa pemulihan ekonomi nasional masih di bawah tekanan.

Hal tersebut karena kerugian yang disebabkan oleh pandemi Covid-19 belum sepenuhnya pulih dan mengembalikan ekonomi untuk normal masih merupakan tugas yang berat.

Pada Sabtu (18/7/2020), Wakil dekan School of Economics di Renmin University of China Wang Jinbin mengatakan keseluruhan pasokan kredit China kemungkinan akan dijaga pada level yang tinggi pada beberapa kuartal mendatang.

Sementara itu, bisa diperkirakan akan terdapat lebih banyak pengeluaran fiskal untuk membantu upaya bantuan bencana dan rekonstruksi di wilayah selatan yang terkena dampak banjir.

Para ekonom berpendapat kebijakan China di masa depan akan terus mencerminkan gagasan kepemimpinan pusat untuk mempertahankan fokus strategisnya serta pemikiran untuk mencegah ekonomi negara menderita kerusakan yang tak terduga mengingat prospek ekonomi global yang sangat tidak pasti.

"Kami pikir pemulihan pertumbuhan yang berlanjut pada kuartal kedua tidak akan membalik sikap pelonggaran kebijakan keseluruhan pada kuartal ketiga karena kegiatan ekonomi belum sepenuhnya kembali normal, tekanan pasar kerja dan ketidakpastian pertumbuhan tetap ada,” ujar ekonom China di UBS.

Akan tetapi, kepemimpinan pusat dapat menilai kembali pelonggaran bauran kebijakan dalam beberapa bulan mendatang ketika pertumbuhan China menjadi normal dan permintaan eksternal pulih.

Gubernur People's Bank of China (PBOC) Yi Gang mengatakan baru-baru ini bahwa China perlu mencegah kebijakan keuangan dari berkurangnya insentif dan pemerintah perlu lebih memperhatikan efek samping kebijakan tersebut.

Regulator keuangan negara telah mengawasi dengan cermat kenaikan harga aset yang cepat baru-baru ini serta potensi pertumbuhan kredit bermasalah di sektor perbankan di tengah kekhawatiran bahwa potensi lonjakan kredit macet dapat membahayakan stabilitas sistem keuangan negara.

Di sisi lain, Kepala ekonom di Guotai Jun'an Securities Hua Changchun mengatakan kebijakan pemerintah perlu mencapai keseimbangan antara mendukung pemulihan ekonomi serta mencegah risiko keuangan dan gelembung aset di pasar modal.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekonomi china pemulihan ekonomi
Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top