Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Aktivitas Bisnis Pusat Belanja Masih Rendah, Ini Penyebabnya

Minimnya aktivitas bisnis ini sejalan dengan tingkat kunjungan mal. Padahal, pengelola telah menetapkan protokol kesehatan sesuai yang dianjurkan.
Ilham Budhiman
Ilham Budhiman - Bisnis.com 25 Juni 2020  |  14:10 WIB
Sebelum dunia dilanda pandemi Covid-19, pusat perbelanjaan di Jakarta ramai dikunjungi. Ratusan pengunjung mal mencoba permainan Ice Skeating di Pondok Indah Mal Jakarta, Selasa (25/12/2019). - BISNIS/YAY
Sebelum dunia dilanda pandemi Covid-19, pusat perbelanjaan di Jakarta ramai dikunjungi. Ratusan pengunjung mal mencoba permainan Ice Skeating di Pondok Indah Mal Jakarta, Selasa (25/12/2019). - BISNIS/YAY

Bisnis.com, JAKARTA — Aktivitas bisnis di pusat perbelanjaan atau mal dinilai masih tergolong rendah seiring telah dibukanya pusat belanja di sejumlah daerah termasuk di DKI Jakarta pada 15 Juni lalu sesuai pembatasan sosial berskala besar (PSBB) transisi.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja mengatakan minimnya aktivitas bisnis ini sejalan dengan tingkat kunjungan mal. Padahal, pengelola telah menetapkan protokol kesehatan sesuai yang dianjurkan.

"Sesuai dengan prediksi, jumlah pengunjung sampai dengan saat ini rata-rata hanya berkisar 20 persen hingga 30 persen," katanya pada Bisnis, Kamis (25/6/2020).

Sementara itu, berdasarkan Peraturan Gubernur Nomor 51 Tahun 2020 pengunjung mal dibatasi hanya 50 persen dari kapasitas mal. Selain itu, belum semua penyewa atau tenant diizinkan kembali beroperasi.

Alphonzus yang juga CEO Retail and Hospitality Sinar Mas Land itu mengatakan bahwa belum gairahnya tingkat kunjungan ke pusat belanja di tengah dampak virus corona baru atau Covid-19 lantaran daya beli masyarakat masih tergerus.

"Daya beli masyarakat juga masih rendah karena kondisi perekonomian secara keseluruhan yang melemah, sedangkan tingkat penjualan masih sangat rendah dan tidak merata di semua toko. Masih didominasi belanja untuk kebutuhan rumah tangga," ujarnya.

Pada saat bersamaan, kata dia, hal tersebut membuat kondisi keuangan pusat perbelanjaan masih sulit meski telah beroperasional kembali dengan adanya beberapa pembatasan seperti pembatasan jumlah pengunjung dan jam operasional.

Semua itu, menurutnya, menyebabkan keuangan operasional menjadi defisit karena pendapatan masih belum bisa menutupi biaya operasional, sehingga pihaknya masih tetap menanti adanya insentif dari pemerintah.

Namun demikian, dengan kondisi yang terjadi saat ini lambat laun pasar ritel diyakini pulih meskipun tidak akan benar-benar pulih secara maksimal. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

mal pusat belanja Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB)
Editor : Fatkhul Maskur
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top